Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Kamis, 23 Maret 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
911, The Big Lie" , Faksi di Militer AS Otak Serangan 11 September?
[Parlementaria]





SEBUAH lembaga yang berafiliasi dengan Liga Arab mengeluarkan terjemahan buku dari bahasa Inggris yang mengklaim bahwa satu faksi dalam militer AS merencanakan serangan 11 September.



Seorang petugas dari Zayed Center for Coordination and Follow-up, mengatakan lembaga itu mengeluarkan buku versi bahasa Arab karangan warga Prancis Thierry Meyssan yang sebelumnya diterbitkan dalam bahasa Inggris dengan judul "9-11, The Big Lie" karena ingin orang-orang Arab memiliki akses terhadap interpretasi lain mengenai serangan 11 September.


Petugas itu mengatakan Lembaga itu tidak mendukung teori Meyssan bahwa faksi sayap kanan dalam militer AS merupakan otak di balik serangan 11 September berdasarkan satu agenda militer, termasuk menyulut perang di Afghanistan.


Meyssan mengatakan rudal Amerika, bukan pesawat, yang menghantam Pentagon. Sambil menunjukkan gambar yang diambil setelah kejadian, ia mengatakan lubang yang diciptakan di dinding tidak menunjukkan hasil dari tubrukan pesawat atau sayapnya.


Buku tersebut ditertawakan oleh media Prancis, tapi kemudian menjadi best seller di negara itu. Dalam buku yang menentang teori Meyssan, penulis Guillaume Dasquie dan Jean Guisnel mengatakan beberapa orang Prancis mengatakan mereka adalah korban, kebenaran disembunyikan dari mereka.


Versi Arab buku itu diterbitkan bukan Juli oleh lembaga itu, sebuah organisasi di Emirat yang berafiliasi dengan Liga Arah dan dipimpin oleh Sheik Sultan bin Zayed, putra presiden negara itu.


Persetujuan dicapai dengan Meyssan bulan April seetlah penulis Prancis itu memberikan ceramah mengenai bukunya di lembaga itu, ujar petugas tersebut.


Didirikan tahun 1997, Zayed secara teratur mengundang pemikir-pemikir Arab dan Barat, profesor, tokoh publik -- termasuk mantan Presiden Jimmy Carter -- untuk memberikan ceramah dalam masalah-masalah yang menarik bagi wilayah tersebut.


Bagaimana dengan tuduhan AS mengenai jaringan teroris di berbagai negara, khususnya Indonesia?


Jaringan teroris di Indonesia


Pengamat politik dan perkembangan Islam di Indonesia dari Universitas National Australia (ANU), Dr Greg Fealy, menegaskan bahwa tuduhan AS mengenai adanya kelompok teroris internasional di Indonesia tidak ditunjang bukti yang kuat.


Karenanya, jika memang benar AS memiliki bukti tentang hal itu, maka sepatutnya Washington membeberkannya kepada masyarakat internasional dan terutama kepada rakyat dan bangsa Indonesia sendiri, kata Greg dalam seminar sehari Post-11 September, New Direction di Canberra, Rabu (11/9).


Sepanjang pengamatannya, menurut Greg, tidak ada bukti tentang keberadaan dan kegiatan jaringan kelompok terorisme internasional, apalagi organisasi Al-Qaida, baik yang dikaitkan dengan kegiatan secara perorangan maupun gerakan yang lebih besar lagi.


Selama ini, tambah Greg, tuduhan tentang adanya jaringan terorisme internasional di Indonesia selalu dihubungan dengan pengakuan dari orang yang tertangkap atau diperiksa oleh pihak keamanan di luar negeri.


"Jadi, tuduhan AS tentang jaringan terorisme itu berdasarkan pengakuan orang-perorang yang sulit diverifikasi (dikembangkan) pada tingkat selanjutnya," katanya.


Greg memang mengaku adanya sejumlah orang yang diduga memiliki kaitan dengan jaringan terorisme internasional seperti Abu Bakar Baasyir maupun Agus Dwikarna, namun dugaan itu tetap lemah dan tidak berdasarkan bukti yang nyata. Berbagai dokumen maupun bukti tidak dapat memberikan kesimpulan yang sempurna bahwa mereka itu terkait dengan jaringan terorisme internasional, katanya.


Begitu juga, pada tingkat organisasi massa keagamaan (Islam) yang selama ini dituding sebagai tempat penangkaran (breeding center) bagi jaringan terorisme, tidak terbukti sama sekali.


Tudingan kepada sebagian Ormas Islam seperti Jamaah Islamiyah, Darul Islam maupun laskar Jihad, selalu dikaitkan dengan kesamaan ideologi yang sebenarnya sudah berkembang di Indonesia sejak 1950-an, katanya.


Greg mengemukakan bahwa gerakan Ormas Islam yang memiliki ideologi ke-Islaman, yang kini lebih dikenal sebagai militan, telah berkembang di Indonesia sejak 1950-an ketika sejumlah tokoh Islam mendambakan pembentukan sebuah negara Islam.


Jadi, jelas idealisme mereka itu bukan ada hubungan denganjaringan terorisme yang kini menjadi momok bagi dunia internasional, katanya.


Oleh karena itu, Greg menekankan perlunya AS untuk menjelaskan duduk permasalahan serta membuktikan segala tuduhannya tentang keberadaan operasi jaringan terorisme internasional di Indonesia.


Pada bagian lain, Greg menyinggung perbedaan secara alami organisasi massa Islam di Indonesia yang sebagian besar memiliki orientasi kepada kepentingan lokal ketimbang upaya menyerang kepentingan orang asing (AS-Red).


Jika salah seorang menulis buku tentang ide penyatuan negara-negara Islam di Asia Tenggara, hal itu harus dilihat sebagai bentuk wacana saja, bukan sebuah tindakan, katanya. Sementara itu, Kapolri Jenderal Pol Da'i Bachtiar mengatakan, tuduhan bahwa pimpinan Pondok Pesantren Ngruki KH Abu Bakar Baasyir adalah teroris hingga saat ini belum dapat dibuktikan.


"Sementara ini belum dapat kita buktikan dan kita anggap yang bersangkutan belum terlibat," katanya.


Menurut Kapolri, informasi tersebut sudah lama diterima, terutama sejak Polri melakukan koordinasi dengan Kepolisian Malaysia dan Singapura yang menyebut nama Abu Bakar Baasyir.


Dikatakannya, pihaknya juga mempunyai data tentang Abu Bakar Baasyir yang pernah meninggalkan Indonesia tahun 1985 karena dijatuhi hukuman 8 tahun penjara dengan tuduhan subversi. Baasyir kembali ke Indonesia setelah UU Subversi dicabut.


Sedangkan soal tuduhan Malaysia dan Singapura bahwa yang bersangkutan adalah teroris, menurut Kapolri, pihaknya meminta dasar dan fakta-fakta yang ditemukan kedua negara tersebut.


"Kalau memang ada dan bisa dipertanggungjawabkan melalui hukum positif kita, siapa pun akan dikenakan tindakan hukum. Tetapi sampai sekarang belum cukup kuat, baru informasi-informasi saja.


Kapolri menambahkan, sebenarnya tuduhan yang lebih kuat bukan kepada Baasyir tetapi terhadap Hambali yang hingga kini masih dicari-cari pihak kepolisian.


Hambali adalah orang Indonesia yang juga mempunyai permanen resident di Malaysia dan sebelum tragedi 11 September 2001, Polri sudah memiliki bukti jelas bahwa Hambali terlibat pengeboman di sejumlah tempat di Jakarta.


"Kami sekarang sedang mencari Hambali, termasuk juga Malaysia dan Singapura sama-sama mencarinya. Singapura juga telah menyebutkan bahwa dari 13 orang yang ditahan di Singapura terkait nama Hambali. Jadi, sebenarnya tiga negara ini sama-sama mencari Hambali," katanya. (ant/satunet/jones)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Masyarakat NTB Protes PAW Hatta Taliwang
Distrik atau Proporsional Tak Soal, Yang Penting Akuntabilitas
Sidang Akbar, Komentar Pakar Hingga Masyarakat Awam