Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Selasa, 24 Januari 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Cerpen Versus Puisi
[Budaya]





SEJAK Seno Gumira Ajidarma membedah melalui gaya penulisan cerpennya, terutam dengan diterbitkannya kumpulan Cerpen "Manusia Kamar", dunia kepenulisan Prosa Indonesia mengalami metamorfosa yang sangat liar. Remy Novaris DM, dalam salah satu esai menulis kalimat di atas. Saya justru melihatnya dalam dunia prosa ada sebuah perubahan yang berlanjut.


Semacam ada sebuah energi yang mendesaknya untuk melakukan sebuah pembaruan "radikal". Begitu dashyatnya peta perjalanan prosa Indonesia. Apabila Sutardji berulang kali menafsirkan peta perpuisian Indonesia dianggap sudah mencapai pembaruannya, dengan menuliskan sebuah "Kredo Puisi", yakni pembebasan sebuah kata dari makna maka tamatlah riwayat perjalanan perpuisian Indonesia.


Apa yang ditempuh para pendahulu di bidang puisi telah mencapai tahapan yang masimal. Permulaan tahun 1945, Chairil Anwar dianggap merombak diksi-diksi yang konon begitu sakral, dan dipercayai Pujangga Baru, sebagai aturan yang tak bisa diubah.


Diksi-diksi puisi yang berirama, semacam a-b-ab, harus diikuti kaidahnya. Dengan gayanya sendiri Chairil tak lagi bisa menerima itu semua. Pendedahan mulai dilakukan, dengan melakukan sebuah pelafalan baru. Mencoret kata-kata yang tak perlu. Meski, jasa penemuan akan kepenyairan Chairil tersebut tidak terlepas dari H.B. Jassin.


Jassinlah yang mempromosikan Chairil, dengan menjelaskan sajak-sajak Chairil, melalui teori sastranya. Peta pembaruan puisi dilanjutkan Sutardji. Penyair "meong" ini melafalkan sajak-sajak mantranya yang abai dari makna. Dalam salah satu esainya Subagio Sastrowardoyo dalam "Pengarang Sebagai Manusia Perbatasan", menjelaskan puisi-puisi Sutardji masih bermakna, walau kadang terasa janggal.


Simak saja salah satu sajaknya dengan penulisan lirik semacam, "Walau Penyair Besar, alif ba ta ku tak sebatas Allah". Yang menjadi pertanyaan disini: Adakah Allah mempunyai batas? Lalu, dimana batasannya. Atau dalam, sajak lain semacam "Mesin Kawin", atau "Kalian"-yang hanya berisi satu lirik 'pun'.


Untuk sementara, peta perpuisian Indonesia berhenti di tangan Sutardji. Penggebrakan generasi sebelumnya terasa belum banyak berarti. Afrizal Malna yang dianggap lokomotif Angkatan 2000 di bidang puisi, hanya mencari kedalaman kata. Gejala mempengaruhi antargenerasi memang kerap terjadi, dalam bidang apapun.


Bisa dilihat, bagaimana Afrizal yang mengakui dirinya terpengaruh sajak Goenawan Muhammad, di awal kepenyairannya. Hal ini, berbeda dengan dunia Cerpen atau agar lingkupnya lebih luas, saya lebih enak menyebutnya sebagai dunia prosa. Gaya kepenulisan yang disuguhkan senantiasa berbeda.


Berbagai macam gaya penulisan disini, sebut Danarto, dengan gayanya yang berkiblat ke mistis. Dengan penawaran cerpen-cerpen bertemakan Malaikat Jibril. Surealis dari kenyataan yang disuguhkan, membenturkan kaidah logika. Sebab, siapa yang bisa bercakap-cakap dengan Malaikat, ataumenjaringnya.


Realitas


Dunia prosa berlanjut dengan meluaskan diri pada kenyataan persoalan sekitar. Putu Wijaya saya anggap memiliki corak tersendiri. Prosa yang ditulis Putu, bertemakan dunia suram dan tak pernah terbayangkan sebelumnya. Putu bisa dengan jenaka meninabobokan pembacanya, sambil menyiapkan energi untuk menutup prosanya, dengan hal yang tak pernah dipikirkan sebelumnya.


Dalam kata pengantar yang ditulis sendiri, Putu selalu bermaksud melakukan teror bagi pembacanya. Bukan hal yang mustahil, jika kenyataan-kenyataan yang ditulisnya begitu abai pada logika. Sebagai contoh, dalam cerpen "Mayat" yang dimuat di Horison, Putu memaparkan bagaimana seongok Mayat yang mati. Tiba-tiba terbangun dan merasa hak "matinya" sebagai mayat telah dicolong penerbitan.


Meskipun, Putu tidak serta-merta menyelesaikan prosanya dengan bahagia. Hal ini, diakui dalam "Blok" semua prosanya dilakukan disela sebagai wartawan saat itu. Regenerasi prosa terus berjalan. Seno dengan gayanya yang baru, menggabungkan gaya penulisan jurnalistik dan sastra. Belakangan, saya menduga, sebenarnya gaya tersebut lama dilakukan Majalah Tempo, sekarang dikembangkan secara lebih nyata lagi dalam Pantau, juga Kalam. Hal ini, barangkali tidak terlepas dari peranan Goenawan Muhammad, sebagai pemimpin redaksi. Corak-corak Seno, seusai menerbitkan "Penembak Misterius", jelas terlihat. Seno selaku wartawan, menuliskan dengan sudut pandang sebagai penyaksi. Simak saja, novelnya "Jazz, Parfum, dan Insiden"-yang memakai banyak kaidah-kaidah penulisan suatu berita.


Prosa Indonesia senantiasa memdedah sendiri. Tak ada kritik yang sanggup menahan laju pergerakannya. Kritik yang tertulis media massa, semuanya dianggap "gertak-sambal". Semua penulis tetap dengan gayanya masing-masing. Di era 80-an ke atas, seiring dengan bermunculan sejumlah sastrawan baru, prosa Indonesia, mengalami pergulatan baik mental dan fisiknya. Pengangkatan isu seputar gejala masyarakat urban, keluarga, cinta yang begitu buram maknanya, terlihat nyata.


Sebut saja sejumlah prosa yang ditulis Bre Redana, Agus Noor, Gus Tf Sakai, Joni Aridianta, Teguh Winarsho AS, Yanusa Nugroho, Anton Kurnia, Helvy Tiana Rosa, Kurnia Effendi, Satmoko Budi Santoso, Djenar Mahesa Ayu, Puthut EA, Eka Kurniawan, Jujur Prananto-sekadar menyebut beberapa nama. Prosa kian tumpang-tindih, makin beragam gaya yang bermunculan.


Hal ini, barangkali, disebabkan tidak adanya teori yang menetapkan gaya kepenulisan prosa. Ketika saya membaca karya Djenar Mahesa Ayu, "Wong Asu" (sebenarnya Cerpen ini merupakan tanggapan dari cerpen Seno sebelumnya "Legenda Wong Asu"). Saya melihat tanda-tanda baca dialog antar tokoh yang hanya dibuka dengan tanda "+" dan "-", tidak sebagaimana lazimnya "". Keadaan ini mengingatkan saya pada gaya kepenulisan lama, sekitar tahun 50-an, dimana prosa yang berkembang banyak menggunakan tanda baca semacam itu.


Hal ini pula yang selalu berulang, ketika Danarto selalu menuliskan prosanya dengan gaya sufisme. Kemudian, dilanjutkan dengan sebuah prosa dari Agus Noor "Pemburu", yang menggambarkan, adanya keterpengaruhan bentuk, meskipun secara makna berbeda. Generasi-generasi terbaru di bidang prosa bermunculan.


Batasan yang disebut prosa makin berkesinambungan. Kita bisa menemukan prosa yang benar-benar pendek, hanya satu halaman bila diketik dua spasi. Sapardi Djoko Damono pelopornya, di pertengahan tahun 2001 Sapardi menerbitkan antologi prosa berjudul "Matinya Seorang Pengarang" (Indonesia Tera), dengan lebih mengutamakan kualitas daripada kuantitas.


Menceritakan peristiwa dengan bahasa yang singkat. Bisa juga menemukan prosa yang panjang, bahkan sampai 30 halaman, 100 halaman, bahkan 1.000 halaman. Remy Silado, menulis prosa panjang, mengenai sejarah etnis Cina dalam peta sejarah Indonesia "Cau Bau Kan" (Gramedia). Atau beberapa prosa lainnya yang menggebrak gaya penulisan baru dalam jagat sastra semacam "Saman", "Larung", dan "Supernova".


Puisi jelas berbeda dengan prosa. Puisi dianggap memiliki daya magis. Walaupun puisi yang berkembang saat ini hanya sebatas seni merangkai kata. Selayak yang diucapkan Sutardji di Bentara April 2002, "Jika saat ini puisi bisa bersifat tak abadi. Semacam taik kuda,". Namun, tingkat yang dicapai puisi, barangkali karena ketuaan usianya.


Puisi dianggap lebih energik dan liar dari prosa. Meskipun, terkadang saya masih gamang membedakan antara prosa yang benar- benar pendek dengan puisi yang juga 1 halaman itu. Puisi sebagai seni olah kata, barangkali, akan tetap mendapatkan tempatnya.


Mengingat usia puisi jauh lebih tua dibandingkan dengan prosa. Puisi begitu sakral dan diagungkan, sebagai mitos. Ucapan-ucapan yang dibentuk dalam sebuah puisi begitu memiliki corak, tentunya dalam kadar sebagai mantra. Penyair merupakan sosok individu sejati yang paling "arrogan" dalam melahirkan sebuah karya. Bila dibandingkan dengan prosa. Walau terkadang, tidak tertutup kemungkinan seorang penyair juga bertindak selaku penulis prosa.


Gus Tf Sakai salah satu contoh, bagaimana penyair dapat bertindak sebagai prosais. Atau sebut Sutardji yang telah meluncurkan antologi cerpennya "Hujan Menulis Ayam" (Indonesia Tera, 2001). Meminjam ucapan Sutardji, tentang kondisi dalam dirinya, apabila dia menulis puisi maka ia akan meliarkan imajinasinya. Sedangkan, bila menulis prosa ia akan mencoba menentramkan imajinasi tersebut.


Di tengah perkembangan dunia prosa kita. Di era berkembangnya kebudayaan secara universal, gaya penulisan prosa cenderung meliarkan imajinasi. Bahkan, meniadakan batasan moralitas yang berkembang di masyarakat. Gaya penulisan prosa mencapai momentum ledakannya yang dashyat, kita bisa menangkap kesemuanya apabila menangkap gaya dari penulis Agus Noor, Indra Tranggono, Triyanto Triwikromo, Oka Rusmini, Ayu Utami, atau sebutlah generasi terbaru yang tengah hadir semacam Djenar Mahesa Ayu, dan Puthut EA. Aroma mistis, persinggungan dari aspek psikologis, begitu kental dan terasa dalam karya kreatifnya.


Prosa Indonesia, boleh melakukan pembaruan maksimal, dengan cara menurutkan sejarah lama, kemudian menggabungkannya dengan suatu hal yang baru. Toh, tidak ada yang bisa mencegahnya. Prosa Indonesia, semacam suatu kebimbangan tersendiri dari penulisnya, yang siap menetas menjadi apa saja, setelah diperam cukup lama. Ia bisa serius, bercanda, atau main-main. (Alex R. Anggota Komunitas Sastra Pelangi)



 

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
CERPEN
Parikesit Menangis di Tengah Gonjang Ganjing
SAJAK-SAJAK
SAJAK-SAJAK
Drs H Subarna SH, MM : Peduli Mamaos Tembang Sunda Cianjuran