Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Minggu, 19 Februari 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
CERPEN
[Budaya]





 



Aku Takut Tua


Cerpen arief turatno


RASANYA, kalau bisa aku ingin segera membanting cermin yang ada didepanku. Karena cermin ini sepertinya telah mencaciku, dengan mengatakan aku telah tua. Dan setiap kali aku memandangnya, setiap kali pula ia mencebirkan bibirnya yang bau.


"Dasar cermin sialan," semakin aku memaki, makin gila saja ia mengejekku. Kali ini ia tidak saja mengatakan aku telah keriput.Namun ia juga mencemoohku dengan mengatakan, "Surti, kami sudah tidak pantas lagi naik panggung. Lebih baik kamu pulang kampung cari kutu..sana...!!"


Apa benar aku telah tua? Apa benar daya tarikku sebagai penyanyi ndangdut telah sirna dimakan usia? Apa benar omelan cermin yang tidak bertanggungjawab itu? "Apa benar semuanya ini.....Uhhhh, sebal..!! Sebaaaaaaaaallll..!!"


Jika semua itu benar. Jika apa yang dikatakan cermin brengsek adalah kenyataan.Kenyataan yang aku tidak dapat lari darinya. Kenyataan yang menjadi takdirNya. Dan kenyataan, aku telah tua. Saat dimana orang akan mencampakanku. Menceburkanku dari panggung.


Tidak ! Tidak aku tidak ingin terjadi. Karena aku belum siap. Aku benar-benar belum siap untuk menerima semua ini. Aku belum mau mengakui kekalahanku dari takdir. Ini Cuma mimpi. Yah, mimpi,"Tapi...ini kenyataan.Tidak ini kenyataan...!"


"Hai cermin, kau jangan hanya mengolokku. Apa saranmu agar aku tetap muda. Aku tidak ingin ditinggalkan penggemarku. Aku ingin tetap jadi Surti yang dulu. Surti yang setiap kali manggung semua mata hidung belang memelototiku. Aku inginkan semua itu. Ayoooo cawab...brengsek!"


Tak ada sepatah kata pun dari cermin bisu itu, kecuali suaraku yang memantul, sekaligus melecehkanku."Percuma....percuma saja kau merajuk. Cermin itu bisu, goblok! Cermin itu hanyalah cermin. Dia tidak bisa apa-apa, kecuali sebuah kenyataan. Kenyataan kamu telah tua....!"


AKU telah tua? Tidak! Aku punya uang untuk operasi wajah. Aku punya kenalan yang bisa mengubah wajahku menjadi seperti gadis belasan tahun. Aku punya segalanya. Mengapa aku tidak kesana. Aku mesti kesana paling tidak untuk konsultasi.


Secepat pikiranku, secepat itu pula aku pacu mobil blazer yang baru saja kubeli. Sekitar satu jam, aku sampai ke tempat temanku, yang membuka poliklinik bedah plastik gelap. Aku sampaikan semua keinginanku. Dan temanku itu memang profesional di bidangnya. Tanpa menunggu terlampau lama, wajahku telah berubah. Lebih muda puluhan tahun. "Kamu benar-benar penyihir masa kini...Boy," kataku kepada Boy, temanku yang dokter spesialis bedah palstik itu.


Tidak hanya itu, hidungku sekarang jauh lebih bagus. Pipiku lebih berisi, meskipun menjadi tambah berat Aku benar-benar telah tampil beda."Hai cermin laknat...sekarang pandanglah aku. Aku telah menjadi orang baru, dan kali ini, tidak ada peluang untukmu mengejeku lagi," kataku kepada cermin yang ada dihadapanku.


"Benar...memang benar, wajahmu telah kembali muda. Tetapi dapatkan kamu membalikan usia yang telah kau lahap dengar rakus. Dapatkah kau mengembalikan tulang-tulangmu yang mulai menyusut. Kamu telah lupa, bahwa sekarang kamu tengah bermain-main dengan waktu," kembali suaraku yang memantul menjawab.


"Aku tidak butuh khotbahmu. Dan kamu nggak usah bawa-bawa takdir segala. Takdir itu ada disini..nih!," kataku dan aku keluarkan segepok uang pecahan ratusan ribu. Aku sodorkan ke cermin bodoh itu.


"Aku tidak menyangkal. Itu benar. Tetapi takdir adalah takdir. Takdir itu berbeda dengan hakim, jaksa, polisi, pejabat, guru dan sebagainya-sebagainya. Yang dapat dibeli oleh uangmu atau kekayaanmu. Camkan itu," jawab suara tadi.


"Perduli setan....sekarang enyahlah kamu. Pergi sana sejauh-jauhnya, sehingga aku tidak lagi mendengar ocehanmu. Pergiiiiiii.........!!!!" aku tak sabar lagi, sampai penyakit tenggorokanmu kambuh. Padahal penyakit ini juga yang paling aku takuti, selain penyakit tua tadi.


Karena ia adalah andalanku, selain wajah dan goyangan. Suara dan tenggorokan ini juga alat vital mencari nafkah. Apa artinya wajahku kembali muda, namun suaraku sember seperti kaleng rombeng.Ini semua gara-gara suara pantulku, yang tidak pernah sejalan dengan pikiranku.


Untungnya suara "menjijikan" itu segera senyap. Kecuali desah nafasku yang memburu menahan emosi. Tidak ada lagi suara-suara, terlebih suara yang menjengkelkan. "Untung, dia cepat pergi...kalau tidak, mungkin tenggorokanku segera putus," segera saja aku pejamkan mata untuk menekan emosi. Tak lama kemudian aku pulas. Tidur di ruang praktek temanku.


SEPERTI biasanya, sebelum manggung aku bercermin dulu Dan saat itu, dialog yang tak pernah kusukai muncul kembali."Kamu merasa cantik..ya?," kata suara pantul itu.


"He-eh, maksudmu.!?" Jawabku pendek.


"Ya, kamu memang cantik. Tapi kamu lupa...dan inilah penyakitmu!"


"Lupa..? Apanya yang lupa? Saya kira semuanya baik-baik saja Operasiku berjalan mulus. Dan wajahku kelihatan cantik, muda, dan seksi..!"


"Coba kamu pandang jari tanganmu. Lihat kerut-kerut di perutmu. Juga tengok betismu. Apakah sepadan dengan wajahmu yang nampak jauh lebih muda? Apakah ini tidak saja lucu, juga tidak harmonis? Itulah jadinya kalau kamu mencoba menentang takdir dan melawan kodrat!"


Tanpa sadar, aku ikuti petunjuk suara pantul itu. Aku lihat semuanya. Memang benar. Dia tidak bohong. Di perutku banyak sekali kerutan, yang menandakan ketuaan. Betisku juga tidak semulus dulu. Ada guratan-guratan yang mengatakan aku tidak muda lagi.


"Karena itu kamu harus segera hentikan perbuatan gilamu yang menentang takdir dan kodrat itu. Terima semua ini dengan lapang dada, dan syukurilah apa yang diberikanNya," masih kata suara pantul itu.


Tiba-tiba ebersit angin panas berbau anyir menyelinap diantara kita. Dan dari balik angin itu mendadak ada suara,"Kamu jangan pedulikan omongannya. Dia itu memang tidak suka kalau kamu jadi muda kembali. Karena itu sebaiknya kamu cuekin saja," kata angin panas itu.


Sekarang aku benar-benar bimbang. Ini aku turuti suara pantul itu. Namun sekali lagi aku belum siap. Belum siap untuk menjadi tua. Belum siap untuk menerima kenyataan, takdir, atau kodrat dan sejenisnya."Lantas apa saranmu wahai angin busuk...!?," kataku.


"Aku tahu ada ramuan yang membuat orang menjadi cantik kembali. Bahkan ramuan itu mampu membuat semua tubuh kita muda kembali. Tulang kita yang keropos segera terisi. Pokoknya, ramuan itu memang sangat mujarab," papar si angin busuk meyakinkanku.


"Dimana dan kemana aku mendapatkan ramuan itu? Berapa harganya? Cukupkah uang yang aku miliki untuk membelinya?" aku makin tertarik saja mendengar ceritera si angin busuk.


"Awas kamu jangan terjebak oleh rayuannya. Ia ingin mengajakmu untuk melawan takdir. Karena dia ingin kamu menjadi sekutunya.Jangan turuti dia. Kamu harus tetap mejadi dirimu,"tiba-tiba suara pantul itu mencela pembicaraan kami.


"Apa pedulimu?" katakut ketus kepada suara pantul.


"Aku peduli, karena aku adalah kamu, dan kamiu adalah aku," kata suara pantul itu lagi.


"Cukup...hai, perempuan. Kamu mau cantik apa nggak? Kalau nggak aku segera pergi. Kalau iya ikuti bau anyirku. Pasti kamu akan sampai ke tempat yang kau tuju," kata si angin busuk, dan selesai dia bicara, sekejap itu pula bau anyir itu hilang.


"SEKARANG rasanya sudah tidak ada lagi yang mesti kita bicarakan. Biarlah kita mengambil jalan sendiri-sendiri. Silahkan kamu enyah dari hadapanku suara terkutuk....!" Kataku mendamprat suara pantul itu.


"Baiklah aku segera pergi, namun jangan kamu sesali apa yang kamu sepakati hari ini. Aku telah memperingatkannya," ujar suara pantul itu, dan sesaat kemudian lenyap.


Bau anyir itu memang masih terasa, meski si angin busuk telah lama berlalu. Dan seperti katanya, aku ikuti bau busuk itu.Tanpa terasa aku telah meninggalkan kamar rias. Aku telah lupa, sebenarnya tengah ditunggu ratusan pasang mata yang ingin melihat aksi goyang pinggulku.


Setapak demi setapak, aku makin jauh meninggalkan orang-orang. Hebatnya lagi, meski aku melewati mereka, tidak ada seorang pun yang menegurku. Seolah-olah aku telah hilang dari hadapan mereka. Atau memang aku benar-benar telah hilang.


Sayup-sayup aku masih mendengar suara-suara yang memanggilku," Surti......Sur......!!! Kamu ada dimana. Kami mencarimu."


Ingin rasanya aku menjawab. Namun tiba-tiba bibir ini sulit digerakan. Tidak hanya itu, seluruh sendi-sendi di tubuhku juga ikut-ikutan kaku. Ttidak bisa digerakan. Langkah kakiku hanya satu menuju sumber bau busuk.


Setelah berjalan hampir tiga jam, dan entah berapa kilometer jarak yang telah aku tempuh. Karena yang kurasakan bukan lagi berjalan, Aku terbang. Benar-benar terbang. Tiba-tiba aku berhadapan dengan makhluk yang selama hidupku baru aku lihat sekarang.


Susah aku mengatakan dia manusia atau bukan. Hampir seluruh wajahnya tertutup rambut. Di tengah-tengah rambut yang kusam itu menyembul tanduk, Mirip tambuk domba melengkung tajam, dan kelihatan mengerikan.


"Datanglah kemari hai manusia...jangan takut!," suara itu seperti datang dari balik liang lahat.Karena ketika berbicara makhluk seram itu tanpa menengok, dan tidak ada epresi sama sekali dari wajahnya. Bahkan tubuhnya nyaris tanpa bergerak.


"Bukankah ini yang kamu maui. Ramuan yang dapat membuatmu muda kembali. Mari minum...nggak usah ragu-ragu. Minumlah dan segera kamu muda kembali," katanya meyakinkaku.


Tanpa terasa kakiku beringsut mendatanginya. Dan juga tanpa sadar tanganku segera meraih gelas kusam yang didalamnya ada cairan warna hijau tua. Dari dalam cairan itu aku masih sempat membaui. Baunya busuk sekali.


"Ayooooo.....minum! Kenapa ragu. Rasanya enak, kok! Dan yang lebih penting kamu akan muda kembali," kata si makhluk seram itu mengingatkanku.


Lagi-lagi, tanpa aku inginkan, tanganku yang memegang gelas berisi cairan busuk itu bergerak pelahan mendekati bibirku."Sekarang buka mulutmu.Ayoooooo.....!" kata makhluk seram itu lagi.


Seperti dikomando, bibirku tiba-tiba membuka sendiri, dan cairan menjijikan itu mulai membasahi tenggorokanku. Rasanya sangat pedas, dan baunya sangat busuk. Busuk sekali. Aku ingin sekali memutahkan cairan itu. Tetapi tidak bisa.


Sedikit demi sedikit cairan itu mulai masuk perutku. Rasanya seperti terbakar. Bersamaan dengan itu kulit badanku berubah, kerut-kerut itu mulai menghilang. Uban yang tumbuh di sebagian rambutku menghitam kembali. Gigiku yang ompong tumbuh lagi.


Dan proses itu ternyata berjalan terus, dan terus , tanpa dapat kucegah lagi. Mula-mula badanku mengencang. Kemudian kulitku yang keriput mengelupas. Seluruhnya. Yah, seluruh tubuhku terus berproses. Dari menjadi segumpal daging. Lantas menjadi cairan, dan akhirnya aku tidak ingat lagi.(***)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Parikesit Menangis di Tengah Gonjang Ganjing
SAJAK-SAJAK
SAJAK-SAJAK
Drs H Subarna SH, MM : Peduli Mamaos Tembang Sunda Cianjuran
Perseteruan yang Terus Bergulir