Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Rabu, 29 Maret 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Menangkap Semangat Amandemen UUD'45 tentang Pendidikan
[Forum Mahasiswa]




Pendahuluan  Mengapa pendidikan penting ?. beberapa pendapat mempunyai perspektif sendiri menjawab pertanyaan itu. Pertama pendidikan ialah upaya sadar melalui bimbingan, pengajaran, dan latihan untuk membantu peserta dalam menuju proses pemanusiaan kearah terciptanya pribadi yang dewasa-susila (Darmaningtyas, 1999).


Kedua pendidikan juga diartikan sebagai perbuatan fundamental dalam bentuk komunikasi antar pribadi, menuju proses pemanusiaan yang harmonis menuju pengembangan kemanusiaan yang utuh (Driyakarya, 1980). Ketiga dalam pandangan Konstamm, -pidagog beraliran Kristen- pendidikan ialah proses bantuan kepada manusia untuk kemanusiaannya guna mencapai ketentraman bathin yang paling dalam tanpa mengganggu atau tanpa membebani dirinya.


 Dunia pendidikan, memiliki tiga variable penting yang saling terkait, yaitu guru, murid dan system pendidikan. Yang paling penting bagi pendidikan bukan pada sistem, tetapi pada manusia. Namun sistem, sebagai mind proses amat menentukan kualitas output manusia. Faktor manusia menjadi penting, karena pendidikan menjadi indikator bagi kemampuan manusia dalam mempertahankan diri menghadapi proses kehidupan, maka tuntutan pemberdayaan sektor pendidikan cukup mendesak untuk mengungkap kemampuan-keterampilan manusia dalam menghadapi kehidupan.


Kemampuan tersebut menurut Sasatrapratedja adalah, pertama kemampuan menghadapi perubahan nilai dan pluralisme, kedua kemampuan memilih dengan baik terutama dalam situasi transisi dan ketika dihadapkan pada alternatif pilihan. Kemudian ketiga kemampuan beradaptasi secara cepat dan tepat
Pertama : Kemampuan menghadapi perubahan nilai dan kemajemukan masyarakat. Kemampuan ini merupakan bekal yang harus dimiliki setiap manusia. Tuntutan dan
percepatan perubahan hidup, dan kehidupan, akibat roda pembangunan yang terus berputar adalah sebuah kemestian.


Tetapi kita tidak bisa menghindar dari derasnya perkembangan informasi yang berdampak pula pada perubahan mindseat, karakter manusia. Untuk itu, pendidikan dituntut  membekali manusia dari serangan perubahan pada masyarakat, jika bekal itu tidak dimiliki secara utuh, manusia dan kemanusiaannya akan hilang ditelan perubahan zaman.Bagi Indonesia, negara yang memiliki keragaman budaya, sasaran pendidikan untuk memahami dan menghayati perbedaan dalam masyarakat merupakan kebutuhan mendasar, sebab, penyeragaman, pembisuan,
dan miskinnya dialog, yang selama ini diterapkan, telah mematikan kesadaran dalam memahami perbedaan dan konflik, outputnya amat terasa bagi proses demokratisasi, sehingga muncul budaya anarkisme, di sekolah, masyarakat, dan negara   
            Kedua : Kemampuan memilih dengan baik dalam keadaan sulit. Kemampuan ini hanya dimiliki oleh manusia kreatif, inovatif, dan berani. Dalam situasi seperti ini, kesenjangan sosial ekonomi membuat masyarakat tidak punya kesempatan memilih. Spirit survive manusia demikian bisa dikembangkan dalam dunia pendidikan,  Untuk itu pendidikan tak hanya melahirkan orang yang berilmu tetapi juga berani dan tangkas dalam mengambil
keputusan sepahit apapun.

Ketiga : Kemampuan beradaptasi dengan baik, Dalam lingkungan masyarakat majemuk yang terus berubah, manusia dituntut piawai dalam memahami, mengerti, lalu
melebur, dan beradaptasi dengan lingkungan. Kemampuan adaptasi penting, agar eksistensi kita ditengah-tengah masyarakat dapat diperhitungkan, atau paling tidak,
ditengah gemerlapnya pembangunan, kita (individu) memiliki peran dan arti dalam menciptakan, mengontrol, dan mengawal perubahan dari waktu ke waktu.

Pendidikan di mata Negara Bagi negara, investasi sumber daya manusia tak kalah
penting dengan investasi modal (material). Karena SDM yang kreatif, inovatif dan progresif membawa pengaruh pada tingkat percepatan dan pertumbuhan ekonomi
nasional.


Tak hanya itu, SDM yang bermutu juga dapat mengurangi beban negara, terutama masalah kemiskinan, kerawanan sosial dan penumbuhan sektor-sektor ekonomi
baru. SDM bermutu, selain cerdas, mereka juga memiliki jiwa enterpreuner yang baik, ketergantungannya terhadap negara amat kecil, dan sumbangannya terhadap masyarakat dan negara cukup besar, terutama dalam mendorong dinamisasi ekonomi masyarakat. Pemikiran ini didukung oleh Schumpeter maupun Hoselitz, mereka meyakini betul wirausaha yang dinamis dapat menjadi motor pertumbuhan ekonomi. Tetapi resikonya, kata ekonom marxis, dan neo marxis, seperti Cardoso, Frank, Sunkel, wirausaha di sektor modern juga menciptakan aliansi-aliansi dengan penguasa atau kelas kapital, sehingga melahirkan dominasi dan monopoli ekonomi di kalangan elit tertentu.
 


Mengingat begitu pentingnya pendidikan dalam proses pembentukan manusia, maka pemberdayaan dan peningkatan mutu pendidikan terasa penting. Kesadaran dan semangat tersebut nampak dalam ST MPR lalu -dalam amandemen UUD 45.  Senapas dengan semangat itu, dalam UUD'45 yang baru di amandemen, -terutama BAB XIII tentang pendidikan dan kebudayaan, pasal 3 sampai 5 menekankan. Pertama pemerintah mengusahakan peningkatan iman dan takwa dalam sistem pendidikan nasional, kedua pemerintah memajukan IPTEK dengan menunjung nilai agama dan persatuan bangsa, ketiga pemerintah memprioritaskan sekurang-kurangnya 20 % dari APBN untuk kebutuhan pendidikan,
 
]


Salah satu sasaran mendasar dalam mendidik manusia yaitu aspek attitude atau mentality. Perubahan prilaku dan mental membawa pengaruh pada sikap sehari-hari. Prilaku dan mental yang baik membawa manfaat bagi masyarakat (bangsa). Dan mental-prilaku yang buruk membawa mudharat bagi masyarakat. Krisis moral yang terjadi di negeri ini, ialah salah satu dampak dari membanjirnya manusia lose attitude dan morality di semua level, terutama di level penguasa.  Berkait dengan kualitas manusia Indonesia, terutama masalah moral, prilaku korupsi menjadi indicator penting. Tak heran jika Indonesia, dimasukkan sebagai negara paling korup di Asia dengan nilai 9,92 seperti
yang diungkap PERC ( Political,Development and Economy Risk, Kompas, 26 maret 2002). Khusus bagi diknas, lembaga ini termasuk nomor urut 2 dari lima departemen
yang mengalami kredit macet di negeri ini (Kompas, akhir 2001).  Dengan record demikian, kini kita semakin yakin, bahwa prilaku dan mental manusia merupakan faktor utama yang menjadi penyebab hancurnya negara. Untuk itu media pendidikan diharapkan menjadi saran efektif dalam melakukan perubahan kepribadian dan
kemanusiaan. Terasa logis jika Iman dan Takwa dimasukan ke dalam sistem pendidikan nasional, agar roh pendidikan menyentuh sisi dasar kepribadian manusia, sehingga anak didik negeri, nantinya  mempunyai kepribadian dan moral mulia.
 
Pada salah satu Laporan dari Achievment Human Index, dari 49 negara, Indonesia termasuk nomor urut ke 48, artinya kualitas manusia Indonesia dalam bidang ilmu
pengetahuan dan teknologi amat rendah, tak lebih baik dari negara-negara tetangga; Singapore, Thailand, dan Malaysia. Sulit dibayangkan, dengan kualitas seperti itu, bangsa ini dapat bersaing di era perdagangan bebas, yang akan di mulai tahun 2003 -untuk kawasan ASEAN (AFTA).


 


Maka tekanan terhadap penguatan basis teknologi bagi anak didik perlu dilakukan, tak hanya itu budaya riset sejak dini harus pula diperkenalkan, agar kemampuan anak didik dalam memahami dan mempelajari ilmu terbiasa dengan kaidah-kaidah keilmuan (baca; ke-ilmiahan). Dengan demikian Indonesia di masa dating diharapkan dapat menuai kualitas SDM yang menggembirakan.


  Kemudian kemampuan Iptek tak bisa berdiri sendiri, ia harus didampingi oleh Moralitas Value, agar Iptek tidak digunakan untuk memperkosa alam, tetapi menyantuni alam, maka agama adalah satu-satunya sumber
moral yang dapat mendampingi perkembangan Iptek. Bagi Islam Akhlak merupakan barometer, sekaligus buah dari nilai keimanan, artinya seorang mukmin, sudah tentu ia
berakhlak, kepada manusia maupun alam sekitar.


Tak salah kalau akhlak dan budipekerti harus dimasukan ke dalam pelajaran di sekolah.  Hal lain yang juga penting ialah nilai-nilai kebangsaaan, disaat derasnya rongrongan budaya luar (barat), maka penanaman kecintaan terhadap tanah air (budaya lokal), merupakan langkah antisipatif dalam
menjaga keutuhan rasa kebangsaan, kalau ini tidak diantisipasi, kehancuran bangsa akan terjadi. Untuk menjaga keutuhan nasional dan moralitas, maka pendidikan juga harus menjadi media penguat dan perekat kebangsaan dan keagamaan.

Prioritas Min 20 %
Berikut, semangat yang ketiga yaitu, mendorong dunia pendidikan secara maksimal, agar mutu dan kualitas pendidikan di masa datang dapat berwajah cemerlang. Untuk menjadi cemerlang, pemerintah perlu melakukan pembenahan disana-sini, dan pembenahan memerlukan anggaran yang tidak sedikit. Maka dalam ST MPR lalu telah ditetapkan dalam UUD bahwa pemerintah akan mengupayakan dana minimal 20 % dari APBN.
Meskipun angka 20% dalam UUD 45 masih dalam perdebatan, -angka realistis atau angka spirit. Namun semangat yang terkandung pada angka 20% membawa arti
tersendiri -dalam dunia pendidikan kita. Artinya  penyelenggara negara mempunyai I'tikad baik dalam memperbaiki dunia pendidikan.  Angka 20 %. Jika dikaitkan dengan pembiayaan pendidikan di masyarakat, maka realitasnya sebagai berikut ; jumlah persentase penduduk desa yang tidak bersekolah lebih tinggi di banding masyarakat kota,
untuk desa (13, 40 %) dan kota (5,13%). Komposisi ini juga semakin kecil ketika mencapai pendidikan yang lebih tinggi (perguruan tinggi atau Diploma), untuk
penduduk desa (0,30 %), dan penduduk perkotaan (2,80%) (Statistik Kesejahteraan Rakyat BPS.1997)  Ini artinya masyarakat kota lebih mempunyai sumbangan
lebih besar terhadap pendidikan, terutama sarana dan akses, dibandingkan masyarakat desa. Kemudianmasyarakat kota lebih memiliki kesempatan maju
dibandingkan desa. Kesenjangan desa-kota juga harus menjadi perhatian penuh pemerintah dalam peningkatan kualitas SDM, maka melalui otonomi pendidikan
diharapkan kesenjangan dapat dikurangi dan pemerataan terwujud.. (Nestapa Pembangunan Sosial, Prof. Dr. Sritua Arif, IDEA, 1999). Angka 20%. Jika dikait dengan beban utang negara, maka agaknya angka itu sulit terjangkau, beban utang yang
kini mencapai Rp. 1500 triliun, yang terdiri utang dalam dan luar negeri, cukup memberatkan anggaran pemerintah.. Sebab konsentrasi anggaran pemerintah,
dan petinggi negara akan banyak mengalir pada beban utang, perbaikan ekonomi, dan persiapan pemilu 2004, kalau ini terjadi, rakyat harus kembali meringis dan
menangis. Yang paling mungkin untuk mendongkrak kebutuhan dunia pendidikan, pemerintah harus memberikan peluang pada dunia swasta (industri) untuk terlibat didalamnya ; merumuskan kurikulum pendidikan,  investasi anggaran, atau mendirikan perguruan tinggi sendiri, sehingga, antara  pemerintah (dunia pendidikan) dan swasta terjadi korelasi positif dalam membangun pendidikan.

 
Negara-negara seperti Malaysia, Jepang mengalokasikan anggaran pendidikan diatas 40 %. Dan mereka banyak memberikan keleluasaan bagi mahasiswa-mahasiswi untuk
belajar ke luar negeri. Lima, sepuluhpuluh tahun mendatang, Malaysia, Jepang akan menjadi negara rujukan SDM berkualitas di ASIA. Bagaimana dengan Indonesia, masihkah puas berstatus eksportir TKI. (Rahmad Dodo)






 

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel