Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Rabu, 29 Maret 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Keintiman yang Hakiki...
[Lingkaran Hidup]






BEBERAPA tahun yang lalu saya amat terkesan dan terharu mengikuti perkembangan hidup seorang wanita yang sedang dilanda sakit menghadapi maut. Selama tiga bulan di rumah sakit, banyak sanak keluarga dan handai taulan yang menjenguknya, malahan perawat, dokter dan mereka yang bertugas sering datang dan sejenak berbincang dengannya, karena dia memang istimewa dalam menjalani masa-masa sulit.


Katanya, "Saya bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa karena keadaan saya ini justru membawa perubahan yang amat menyenangkan untuk saya." Tentu saja siapapun yang mendengarkan pernyataan ini akan terheran-heran, namun apa yang ia katakan memang terpantul dari sikapnya.


Suaminya selalu berada di sampingnya, menyisir rambutnya, mengelusnya. Dia meminta radio dan bercerita tentang apa yang saja tentang berita-berita yang memperluas wawasannya. Apabila dia sedang tidak dilanda sakit, maka ia akan tampak cerah, tersenyum malahan tertawa tergelak. Prioritas saya dalam hidup sudah berubah, karena penyakit ini justru membuka mata saya tentang apa saja yang benar-benar berarti.


Satu-satunya yang bisa saya nikmati dari uang adalah karena saya masih dapat dirawat di rumah sakit yang cukup mewah ini.. itu saja. Karena hari-hari saya dalam kehidupan ini mungkin tak berapa lama lagi, maka saya melakukan hal-hal yang selama ini saya tunda selalu. Buku yang ingin saya baca, pemaafan yang seharusnya sudah saya berikan bertahun-tahun yang lalu, justru sekarang saya melakukannya.


Sekarang saya dapat leluasa mengatakan rasa cinta kepada sanak saudara, tidak ada lagi yang tersendat-sendat, walau saya tentu tidak berbahagia dengan keadaan ini, namun ada kebanggaan dan saya mendapatkan juga kebahagiaan yang lebih mendalam darinya. Kini saya dapat tampil seadanya dengan diri saya. Yang paling utama, selama ini saya pikir tidak akan mendapatkan saat-saat bahagia dengan suami saya, tapi justru sekarang saya baru mendapatkannya.


Suami saya belum pernah sebaik ini, belum pernah ia menyatakan kasih sayang dan cintanya seperti sekarang. Dia rela meninggalkan kesibukannya untuk dapat bersama saya, kita bersama-sama untuk beberapa jam setiap hari, yang belum pernah terjadi tatkala saya sehat, dan kini kami berpegangan tangan selama berjam-jama, tertawa dan berbincang-bincang.


Saya mengingat-ingat kembali pengalaman di masa silam dan saya sekarang dapat melihat semua pengalaman di masa lalu itu dari sudut pandangnya. Saya sekarang memahaminya dan membuat saya juga mengerti akan hubungan kami. Kami sekarang berbicara tentang makna dan arti kehidupan, juga kematian, semua itu belum pernah kami lakukan kala saya sehat.


Sekarang suami saya sempat menyisir rambut saya, yang belum pernah ia lakukan, mengatakan juga bahwa ia mencintai saya, terasa ada keintiman dan kelembutan pada jari-jarinya. Saya pikir, andaikan saya tidak menderita sakit, bisa jadi kami bagaikan dua patung. Sekarang perkawinan kami justru membaik dalam keadaan saya tidak sehat secara badaniah.


Melihat kembali ke masa lalu, keadaan kami berdua, membuat saya berbahagia dalam keadaan menderita sakit. Saya, penulis... adakalanya berpikir, kalau saja wanita ini masih dapat menikmati kehidupan walau hanya beberapa bulan lagi, tapi saatnya sudah tiba, ia meninggal hanya ditemani suaminya dan saya anaknya tidak bersamanya. Karena rupanya inilah yang ia inginkan hanya berdua dengan suaminya, yakni ayah saya.


Selalu ingat


Saya akan selalu ingat bagaimana wanita ini memberikan kasih sayang, penuh maaf dan dapat melihat satu permasalahan dari sudut pandang yang adakalanya membuat kita tidak mengerti. Katanya, "Cobalah meninctai tanpa mengharapkan imbalan. Barulah cinta itu memberikan kebahagiaan yang mendalam dan tidak menjadi beban." Selama hidupnya selalu dikelilingi sanak dan saudara, tapi pada hari-hari terakhirnya dia meminta hanya berdua dengan suaminya dan suaminya membelainya membisikkan kata-kata cinta.


Kala itu banyak yang saya tidak mengerti, tapi rupanya itulah keintiman yang hakiki. Menyentuh, membelai, membuat hati kita tersentuh karenanya. Kelembutan adalah juga keintiman tanpa kelembutan. Kalimat yang memberikan rasa bahagia, membuat kita merasa dicintai. Bilamanakah kita terakhir kali merasakan kasih sayang dan keintiman? Bilamanakah terakhir kali tertawa? Cukup banyak pasangan hidup, kekasih yang tidak lagi tertawa, begitu juga menangis, karena ada tangis perpisahan dan ada tangis luapan kegembiraan. Begitu juga kita perlu membina terus kemampuan kita untuk tertawa, karena tertawa bersama-sama adalah pantulan keintiman.


Mencintai tanpa keintiman terasakan hampa tanpa makna. Karena cinta... mencintai... adalah kata kerja, sangatr mencintai tanpa keintiman hanya sebuah kata. Keintiman adalah juga memaafkan yang sulit dimaafkan, jadi melihat dunia ini dari sudut pandang yang tidak lazimnya.


Kebersamaan adalah seksualitas, terasa indah dan bergairah, karena adanya keintiman yang mendalam. Seks adalah juga pantulan dari keganasan, tapi seks dalam kebersamaan adalah pengalaman dan pantulan dari cinta yang mendalam yang diwarnai kegairahan, keintiman sehingga menjadi sakral, dan ini hanya terbina apabila ada keikhlasan melihat permasalahan dari sudut pandang orang yang kita cintai.


Cinta, keintiman, adalah juga kekinian yang tidak menunda-nunda dalam menyatakannya, dan kita akan mendapatkan cinta, merasakan adanya keintiman, apabila mencintai melebihi kepentingan pribadi yakni pengabdian.


Pengalaman bathiniah yang amat sublim memberikan kebahagiaan yang mendalam, karena justru memberi tanpa mengharapkan sehingga cinta tidak merupakan beban.


Ini bukan muluk-muluk seperti kisah-kisah cinta abadi, yang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari.

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Rumah Bersih Tapi Banyak Kecoa?