Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Rabu, 29 Maret 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
AL-RAZI: PERINTIS ILMU MEDIS
[Pemahaman Keagamaan]




Oleh Husain Heriyanto[1]

PENGANTAR


            Telah disebutkan pada kolom pekan lalu bahwa salah satu sumbangan ilmu medis Islam kepada peradaban dunia adalah membangun sistem dan kurikulum ilmu medis.  Para ahli medis Muslim menyusun sistem pendidikan ilmu medis melalui pengintegrasian teori-teori dan praktek-praktek yang mereka lakukan, dan sistem ini ternyata terpakai dan dimanfaatkan beberapa abad kemudian di Barat dan di Timur.   Salah seorang tokoh utama perancang sistem ilmu medis itu adalah Zakariya al-Razi.


            Zakariyya al-Razi (865 – 925) yang disingkat dengan al-Razi adalah penulis Muslim pertama yang menguraikan masalah-masalah medis dan klinis.  Lahir di Rayy, Persia (sekarang Iran), al-Razi dikenal di Eropa dengan nama Rhazes dengan pengaruhnya yang besar terhadap perkembangan ilmu kedokteran Eropa modern.  Menurut Seyyed Hossein Nasr dalam Science and Civilization in Islam (1968), al-Razi adalah dokter klinis yang terbesar dalam Islam dan memperoleh kemasyhuran di Eropa zaman Renaisans, dan hanya ditandingi oleh Ibn Sina.


Sebelum beralih ke dunia kedokteran, al-Razi adalah seorang ahli kimia.  Menurut sebuah riwayat yang dikutip oleh Nasr (1968), al-Razi meninggalkan dunia kimia karena penglihatannya mulai kabur akibat ekperimen-eksperimen kimia yang meletihkannya, dan ia dengan bekal ilmu kimianya yang luas lalu menekuni dunia medis-kedokteran, yang rupanya menarik minatnya pada waktu mudanya.  Dalam waktu yang relatif cepat, ia mendirikan rumah sakit di Rayy, salah satu rumah sakit yang terkenal sebagai pusat penelitian dan pendidikan medis.  Tak lama kemudian, ia juga dipercaya untuk memimpin rumah sakit di Baghdad.


Diriwayatkan bahwa al-Razi termasuk pendidik yang amat memperhatikan siswa-siswanya yang datang berguru kepadanya dari dekat dan jauh.  Ia sangat dihormati karena pengetahuannya dan keramahannya terhadap siswa dan pasien.  Ia terus menulis dan belajar hingga ia buta, yang membuatnya kembali ke Rayy untuk melewatkan sisa hidupnya. 


 


DOKTER KLINIS


Selama hidupnya al-Razi telah menulis tidak kurang dari 232 karya-karya ilmiah dalam banyak bidang seperti : kimia, kedokteran, astronomi, sejarah, filsafat, teologi dan juga etika (filsafat moral).   Dalam lapangan kimia, salah satu karya al-Razi berjudul Al-Kimya, suatu buku acuan penting dalam ilmu kimia.  Karya medis al-Razi yang membuatnya terkenal sampai ke dunia Barat adalah Al-Hawi.  Karya al-Razi yang terdiri dari 20 jilid ini, menurut Natsir Arsyad (Ilmuwan Muslim Sepanjang Sejarah, 1989),  dianggap sebagai buku induk dalam bidang kedokteran.  Buku ini menghimpun hasil-hasil ekperimen, penelitian, dan pengalaman medisnya selama 15 tahun.  Apa yang dituliskan di dalamnya adalah hasil rangkuman ilmu-ilmu kedokteran yang telah ia baca, ia catat, lalu kemudian ia uji keabsahan dan kebenarannya lewat eksperimen.


Kurang lebih setengah abad setelah wafatnya, buku tersebut baru dijumpai dua jilid dan jauh sesudahnya baru diketemukan dalam berbagai musium di Eropa.  Istana-istana Kristen Eropa ketika itu mempunyai perhatian besar terhadap buku tersebut dan merasakan betapa pentingnya bagi para tabib yang ditugaskan untuk menjaga kesehatan keluarga raja-raja.  Bahkan Raja Charles I dari Anyou, saudara dari St. Louis tentara perang Salib dan Raja Napels, memerintahkan agar Al-Hawi diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, bahasa resmi ilmu pengetahuan Eropa waktu itu.  Penerjemahan dilaksanakan oleh seorang dokter Sicilia, Faray Ibnu Salim bersama dengan Gir Farragut.  Salinannya dibubuhi nama-nama yang sesuai dengan keagungan buku ini, yaitu Continents. 


Dari buku Al-Hawi (Pengendalian Diri) inilah bersama karya Ibn Sina Al-Qanun fith Thibb, orang Eropa banyak mengenal ilmu kedokteran dan diajarkan di universitas-universitas seluruh Eropa sampai abad ke-18.  Bahkan, menurut Dr. Gustave Le Bon seperti yang dikutip Natsir Arsyad (1989), salah satu karya al-Razi yang lain, yaitu  buku kimia Al-Asrar,  masih tetap menjadi buku pegangan praktikum kedokteran di Eropa sampai abad ke-19 M. 


Nasr (1968) menyebutkan bahwa Pengendalian Diri adalah karya medis terpanjang yang pernah ditulis dalam bahasa Arab.  Buku itu  harus dianggap sebagai sumber paling mendasar untuk pengkajian aspek-aspek klinis ilmu medis Islam.  Ia dikaji dengan penuh antusias di dunia Barat dari abad ke-12 M hingga abad ke-17 M, ketika al-Razi dan Ibn Sina lebih dipandang tinggi daripada Hipokrates dan Galen, dua tokoh utama medis Yunani.  Buku itu merupakan satu dari pilar utama kurikulum pendidikan ilmu medis.


Menurut Mehdi Nakosteen dalam Kontribusi Islam atas Dunia Intelektual Barat (terj., 1996), banyak karya kimia dan medis al-Razi setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Eropa, termasuk dalam bahasa Inggris.  Beberapa diantaranya dicetak sebanyak 40 kali antara tahun 1498 – 1866 dalam bahasa Inggris.  Buku inilah salah satu karya al-Razi yang memberi pengetahuan kepada para dokter Eropa tentang liku-liku penyakit.  


Al-Razi tercatat sebagai orang pertama yang mencurahkan segenap pikirannya untuk mendiagnosa penyakit cacar dan campak. Nasr (1968) menyebutkan bahwa karya medis  al-Razi yang terkenal lainnya adalah Aj-Judari wa al-Hasbah (Naskah tentang Cacar dan Campak)  - atau dikenal dengan bahasa Latin De Pestilentia atau De Peste - dibaca di kalangan medis di dunia Barat sampai masa modern.  Oleh karena itu, ia dianggap sebagai penemu penyebab penyakit cacar dan campak beserta metode dan teknik pengobatannya.  Untuk keperluan diagnosis penyakit dan metode terapi yang tepat, al-Razi juga ahli mengenai anatomi, dan dalam bidang ini, seperti para dokter Muslim lain, ia melanjutkan tradisi Galen. 


Dalam hal pengobatan, al-Razi untuk pertama kalinya di dunia medis melakukan pengobatan khas dengan pemanasan dan perangsangan saraf, yaitu pengobatan yang mirip dengan cara akupuntur yang sekarang telah amat populer, dengan cara penusukan noktah-noktah tertentu pada tubuh dengan besi-besi yang pipih runcing dan telah dipanaskan dengan minyak mawar atau minyak cendana.  Dalam karyanya al-Manshuri, al-Razi merangkum hasil penelitiannya di bidang anatomi, obat-obatan, ilmu gizi, operasi, obat-obat bius dan demam.


Sebagai ahli kimia dan medis, ar-Razi juga sangat giat mengadakan pengajaran ilmu-ilmu medis.  Dengan menjadikan rumah sakit sebagai pusat penelitian kedokteran, ar-Razi telah menemukan penyakit cacar dan campak.  Dan sebagai pusat pendidikan, ar-Razi telah mencetak ribuan pelajar Muslim yang menekuni ilmu kedokteran.   Ia juga mengintrodusir dan mewarsikan metode pendidikan medis apa yang kini disebut sebagai CME (Continuing Medical Education).


            Disebutkan oleh Ajram (The Miracle of Islamic Science, 1992) bahwa cara al-Razi dalam menentukan lokasi berdirinya rumah sakit Baghdad cukup menarik, unik dan orisinal.  Ia menggantung potongan-potongan daging segar di berbagai wilayah kota dan lalu mengamati daerah-daerah mana yang paling cepat membusuk dan daerah-daerah mana yang lambat membusuk.  Daerah yang paling lambat membusuknya daging itu menjadi lokasi yang terpilih.   Al-Razi melakukan hal ini dengan berasumsi bahwa wilayah yang paling lambat membusukkan daging adalah wilayah yang paling higienis dan karenanya paling sesuai untuk lokasi pembangunan rumah sakit.  


            Nasr (1968) menyatakan bahwa kontribusi al-Razi dalam ilmu medis dan farmakologi seperti termuat dalam banyak karya medisnya amatlah besar.  Dialah orang pertama yang mengenal berbagai penyakit penting dan mengobatinya dengan berhasil, seperti cacar.  Secara umum diakui bahwa dari al-Razilah berasal isolasi dan penggunaan alkohol sebagai antiseptik dan penggunaan pertama air raksa sebagai pencahar, yang jadi terkenal dalam abad pertengahan dengan nama “Album Rhasis”. 


 


PENUTUP


            Paparan singkat tokoh ilmuwan-filsuf Muslim al-Razi ini diharapkan dapat memberikan inspirasi bagi kita untuk mengambil pelajaran bahwa seorang ilmuwan atau cendekiawan yang sejati telah memberikan sumbangan yang besar kepada peradaban manusia melalui dua hal : (1) karya-karya ilmiah yang ditinggalkannya, dan (2)  cara hidupnya yang mendemonstrasikan bahwa kenikmatan hidup yang lebih manusiawi adalah berupa kekayaan intelektual dan kebijaksanaan.  Keberadaan orang-orang seperti al-Razi ini menyingkapkan potensi khas kemanusiaan yang kerapkali ditinggalkan oleh kebanyakan orang yang tenggelam dalam kenikmatan duniawi.








[1] Penulis adalah Direktur Pelaksana Pusat Kajian Filsafat Madina Ilmu (PKFMI)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Sejarah Awal Perkembangan Ilmu Fiqih
KHASANAH ISLAM KLASIK
Sumbangan Epistemologi Islam