Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Sabtu, 25 Februari 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Narwen Alias Nunung, 22 Tahun Menderita
[Kesehatan]

Narwen Alias Nunung, 22 Tahun Menderita Lumpuh

MASA kecil bahagia dan penuh canda tawa seperti layaknya anak-anak pada umumnya, terampas sudah. Kebahagiaan itu hilang dari genggaman dan tergantikan dengan petaka berkepanjangan hingga usia gadis kecil nan malang tersebut beranjak dewasa.
Sekira 22 tahun sudah dia menderita kelumpuhan dan kalau berjalan bertumpu pada punggungnya dengan menggerakkan organ tubuh yang masih berfungsi.
Siapakah gadis malang itu? Dan penyakit apa yang menggelayuti tubuhnya hingga dia tak mampu menggerakkan anggota tubuhnya?
Penelusuran Pelita pada Minggu (30/3) dengan salah seorang kerabat yang peduli namun tak kuasa berbuat banyak, menuntunnya hingga singgah pada sebuah rumah di kawasan Blok Buyut Plumbon, RT 10 RW 04 Desa Plumbon Kecamatan Indramayu, Jawa Barat.
Saat melihat kondisi yang bersangkutan secara langsung, sepertinya ia tak kuasa untuk menggerakkan mulut sekedar pembuka untuk mengakrabkan suasana, karena hati ikut larut dan terenyuh melihat derita yang dialaminya.
Apalagi, sejak ibundanya dipanggil ke pangkuan Ilahi pada 10 tahun lalu, statusnya menjadi yatim-piatu. Sejak ibunya meninggal dunia, dia diasuh kerabat dari orang tuanya yang masih peduli.
Gadis itu belakangan diketahui bernama Narwen yang oleh teman temannya dipanggil Nunung.
Menurut cerita pamannya, Rakiyan, 59, sejak Nunung berusia 10 tahun, katika masih Kelas III SD, dia sering mengalami kejang-kejang. Kejang-kejang itu berkelanjutan hingga membawanya pada kelumpuhan hingga sekarang.
Kalau dihitung-hitung mungkin sudah 22 tahun Nunung menderita penyakit kejang dan membawanya pada kelumpuhan, ujar Rakiyan membuka cerita.
Menurut dia, berbagai upaya sudah dilakukan oleh orang tuanya ketika masih hidup untuk menyembuhkan Narwen, baik lewat medis maupun supranatural. Namun kiranya kesembuhan belum berpihak kepada Nunung. Ia sepanjang hidupnya hanya telentang, baik saat tidur, makan maupun berjalan.
Karena itu ketika dia berjalan pun tumpuannya adalah punggung dengan dibantu oleh gerakan tangan dan kaki, otomatis ketika berjalan dia tidak pernah jauh, paling dari kamarnya ke kamar mandi atau ke ruang tamu, dan itu ditempuh cukup waktu lama. Termasuk ketika Pelita bertandang ke rumah pamannya tempat Nunung berteduh, saat itu dia ada di kamarnya, dan dia begitu lama ketika membuka pintu kamarnya.
Sekarang, ketika kesembuhan belum juga datang, sekira enam bulan yang lalu organ tubuh bagian kanannya mengalami lumpuh total. Otomatis kalau berjalan ke manapun Nunung sedapatnya menggerakkan kaki dan tangannya yang sebelah. Dapat dibayangkan, penderitaan yang dialaminya sangatlah berat.
Melihat hal itu saya tak tega namun harus berbuat apa? Pernah suatu ketika, karena kasihan melihat Nunung saat jalan, maksudnya mau membantu dengan cara mengangkatnya, namun dia menjerit kesakitan ketika diangkat. Maka sejak itu, tega tak tega ketika melihat dia jalan, saya hanya bisa melihat pasrah, tutur Rakiyan.
Rakiyan berharap kiranya ada pihak pihak tertentu yang peduli pada penderitaan yang dialami Nunung untuk membantunya. Intinya dia ingin mengetahui kejelasan penyakit apa yang dia derita, karena sejak usia 10 tahun dia sering mengalami kejang berkelanjutan dan mengantarnya pada kelumpuhan. Sejak mengalami kelumpuhan, dia tidak bisa duduk, apalagi berjalan dan berhari-hari, bulan, dan tahun lebih banyak telentang.
Sejak Nunung menjadi yatim-piatu, setelah ditinggal almarhumah ibunya 10 tahun lalu, sebelum dia diurusi oleh saya, dia diurusi oleh kerabatnya secara bergantian, baik itu untuk menggantikan bajunya atau memberinya makan, sebab kalau dia telat diberi makan kadang bisa menimbulkan kejang-kejang. Makanya, kalau salah satu mempunyai kesibukan, harus menitipkan pada yang lainnya, paparnya.
Di penghujung cerita Rakiyan menegaskan, dia berharap ada kepedulian dari lembaga terkait untuk membantu meringankan derita yang dialami Nunung, paling tidak dia mengetahui jenis penyakit apa yang dideritanya. Untuk selanjutnya setelah ada perhatian dari pihak tertentu sembuh dan tidaknya penyakit yang dideritanya nanti, itu urusan lain. Karena segala sesuatunya semua bergantung kepada Allah SWT, katanya lirih.(kus/saprorudin)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Askeskin Bantu Masyarakat Miskin di Rumah Sakit
KB Harus Jadi Pilar Pembangunan
Askes Kesandung Askeskin?
Anak yang Kurang Tidur, Tubuhnya akan
Dokter Juga Bingung