Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Jum'at, 24 Maret 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Dokter Juga Bingung
[Kesehatan]

Ketua Umum PB IDI:
Dokter Juga Bingung

MASYARAKAT resah atas pemberitaan susu formula yang tercemar bakteri enterobacter sakazakii. Dokter anak pun mulai bingung menjawab pertanyaan pasien tentang susu yang aman dikonsumsi. Berkaitan hal itu, Pelita mewawancari Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia, Dr dr Fachmi Idris, MKes.

Masyarakat resah adanya susu formula yang tercemar bakteri, bagaimana sikap IDI?
Bukan hanya masyarakat, dokter pun khususnya dokter anak juga mulai bingung menjawab pertanyaan pasiennya. Tetapi kami menyarankan jalan terus untuk mengonsumsi susu formula karena penelitian itu bukan studi secara epidemiologi.
Isu ini diangkat sebetulnya memalukan karena sepanjang yang saya tahu, saya baca, ini hanya penelitian laboratorium dan hanya menggunakan mencit (tikus kecil) sebagai obyek percobaannya.
Penelitian ini pun tidak layak karena itu hasil penelitian tahun 2003-2006. Untuk mengeneralisasi dan mendeferensiasi ke manusia itu juga tidak mudah. Ada tujuh kriteria, salah satunya adalah biological gradient atau dosis respons yaitu berapa banyak jumlah bakteri itu secara bermakna dapat mengakibatkan suatu keadaan yang tidak diharapkan terhadap kesehatan seseorang.
Jadi saya kira ini isu murahan. Apalagi terkesan percobaan itu sudah terjadi pada manusia.
Apakah penelitian itu tidak ilmiah?
Bukan begitu, ini ilmiah tetapi kenapa deferensialnya terlalu cepat dari hewan. Apakah jumlah bakteri dalam susu itu cukup bermakna terhadap manusia karena hanya dicoba kepada hewan. Ini tidak bisa kita samakan.
Seharusnya untuk membuktikan bahwa itu terjadi pada manusia khsususnya bayi cara membuktikannya dengan studi epidemilogi, bukan studi hewan percobaan. Percobaan yang dilakukan kepada hewan tidak bisa diterapkan langsung kepada bayi secara sengaja kita beri susu itu lalu kita ikuti apakah terjadi penyakit atau tidak. Ini tidak mungkin sengaja melihat begitu, tetapi alami saja kita lihat. Ini jadi terlalu teknis, ya.
Tetapi bukankah sudah ada informasi dari WHA (World Health Assembly) tentang bakteri sakazakii itu?
Menurut saya, jika susu itu diberikan kepada binatang percobaan, ada hubungan antara dosis respons antara jumlah bakteri dengan benefit. Nah, kita tidak bisa langsung menyimpulkan dapat terjadi di manusia.
Kalau pun akan menyimpulkan terjadi pada manusia dalam hal ini bayi, bisa terjadi pada bayi baru lahir yang berada di ruang perawatan intensif care dan bayi prematur. Karena bisa saja bayi prematur yang diberi susu itu, susunya terkontaminasi dari faktor eksternal, apakah dari susunya atau sendoknya atau cara memberinya. Secara umum ya, harus ada sebab-akibat tadi ada kriteria biological gradient atau dosis respons, harus ada jumlah tertentu hingga membuat sakit.
Itu informasi dari teman-teman dokter IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia). Bayi prematur ada juga yang tahan terhadap bakteri ada juga yang daya tahan tubuhnya tidak bisa melawan. Jadi hal tersebut (keracunan bakteri) bisa terjadi dalam kondisi seperti itu.
Tetapi dari tahun ke tahun trend pencemaran dalam produk susu semakin turun. Mungkin dengan cara produksi susu yang baik seharusnya kontaminasi semakin hilang tapi Badan POM menjamin bahwa kontaminasi itu nol.
Susu itu kan bukan obat, tinggal bagaimana mekanisme pemberiannya, jadi ada beberapa hal, ini sangat teknis. Misalnya bayi sedang sakit tidak diberi sekaligus, tetapi sedikit tetapi sering, setengah jam dikasih sehingga konsentrasinya besar.
Apakah ada imbauan kepada masyarakat dan apa tips aman mengonsumsi susu?
Tolonglah jangan panik, jangan cemas, jangan cepat menyimpulkan, dokter anak pun sekarang kerepotan. Saya juga khawatir masyarakat takut memberi susu kepada anaknya, ini sangat merugikan.
Tips susu yang aman? Wah, saya tidak berani memberi karena produk susu ini kan dilematis. Misalnya proses pasturisasi susu yang paling sederhana saja, dalam suhu tertentu dalam waktu tertentu, kalau suhunya terlalu tinggi nanti proteinnya bisa hilang, ada mekanismenya. Dokter mempelajari sedikit dalam public health seperti itu. Tipsnya ya, baca aturan pakai pada kemasan tersebut.
Apakah bakteri sakazakii ini tidak berbahaya?
Kalau bicara bakteri, semua bakteri berbahaya tetapi kuantitatif ini kan berperngaruh. Kita harus melihat dosisnya. Misalnya bakteri ecoli dalam kadar terentu berbahaya. Tetapi jika menemukan ecoli dalam air masih berkisar nol sampai 10 berarti masih aman. Memang yang ditemukan dalam mencit itu katanya terjadi meningitis dan dikhawatirkan bakteri itu masuk dalam darah.
Apa yang bisa kita harapkan dari pemerintah?
Kita minta garansi dari negara, kalau produksi susu formula yang beredar kualitasnya bagus dan aman dikonsumsi. Jadi jangan karena isu ini, jadi takut minum susu.(dewi purnamasari)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Musnahkan Susu Mengandung Bakteri
Mereposisi KB Sesuai MDGs
Akses Penca Belum Terpenuhi
Ojek Ambulans Jadi Penyelamat Ibu Hamil
Kelompok Usaha Perangi AIDS