Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Selasa, 24 Januari 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Pesta Kembang Api Warnai Pergantian Tahun di Banda Aceh
[Otonomi Daerah]

Pesta Kembang Api Warnai Pergantian Tahun di Banda Aceh

Banda Aceh, Pelita
Meskipun ada larangan dari Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Provinsi dan Muspida setempat, ribuan warga Banda Aceh yang berkumpul di lapangan Blang Padang dan larut dalam pesta kembang api untuk mewarnai pergantian tahun 2007 ke 2008, Selasa malam.
Pemantauan wartawan, ribuan warga Banda Aceh yang mulai berdatangan ke lapangan seluas sekitar 1,5 hektare sejak pukul 22.00 WIB itu tidak henti-hentinya membakar kembang api.
Puncak pesta kembang api mulai terasa pada pukul 23.45 WIB atau 15 menit menjelang pergantian tahun. Warna-warni kembang api menghiasi udara di lapangan tersebut.
Tepat pukul 00.00 WIB, pesta kembang api juga disahuti dengan suara kelekson mobil dan sepeda motor yang memenuhi lapangan yang berada di pusat kota Banda Aceh itu.
Sementara itu, jalan-jalan protokol di ibukota Provinsi Aceh itu juga dipadati kawula muda degan mengendari sepeda motor dan kenderaan roda empat. Mereka keliling kota sambil meniup terompet.
Larangan MPU Aceh dan Muspida Kota Banda Aceh agar warga tidak melakukan kegiatan hura-hura seperti membakar kembang api dan tiup terompet pada pergantian tahun baru tidak dihiraukan, padahal imbauan itu sudah jauh-jauh hari disosilisasikan, baik melalui media massa maupun penerangan langsung.
Sehari menjelang pergantian tahun, Wilayatul Hisbah (polisi syariat) melakukan razia pedagang terompet dan petasa serta kembang api. Bahkan sampai pukul 22.00 WIB, petugas WH masih melakukan razia terompet.
Menurut Humas Dinas Syariat Islam Kota Banda Aceh Wirzaini Usman, hingga pukul 22.00 WIB, pihaknya berhasil menyita sekitar 2.000 terompet dari pedagang yang berjualan di jalan-jalan protokol di kota itu.
Meskipun razia dilakukan, para pedagang masih nekad berjualan terompet di atas pukul 22.00 WIB. Mereka terpaksa menjual terompet, karena sudah terlanjur dibuat.
Menurut pedagang, larangan tersebut baru dikeluarkan pertengahan bulan, sementara mereka sudah membuat terompet sejak bulan Nopember lalu. Jadi, tidak mungkin terompet tidak dijual, sementara modal sudah banyak keluar, ujarnya.
Wirzaini mengakui bahwa mereka kesulitan untuk menertibkan pedagang terompet, karena ketika petugas datang, para pedagang sembunyi, dan setelah pergi, mereka berjualan lagi. Jadi, petugas dan pedagang main kucing-kucingan, ujarnya.
Disebutkan, yang menjadi masalah sekarang, masyarakat juga turut membeli terompet tersebut, sehingga petugas serba salah, di satu sisi melarang pedagang berjualan, tetapi di sisi lain warga membeli terompet.
Meskipun demikian, petugas tetap melakukan penjagaan agar masyarakat tidak meniup terompet, khususnya di kawasan Masjid Raya Baiturrahman, katanya.
Sementara itu, anggota Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kota Banda Aceh, khususnya para remaja melakukan kegiatan pengajian.
Ketua DPD LDII Kota Banda Aceh Zaini, SE, Ak mengatakan, kegiatan pengajian tersebut dimlai pukul 20.30 hingga 23.00 WIB dengan materi al-Quran dan Hadist dan ditutup dengan nasihat agama.
Hingga pukul 01.50 WIB, suasana di jalan raya Banda Aceh masih ramai, dan para remaja dengan mengendari sepeda motor melakukan pawai sambil membunyikan kelakson.
Sebelumnya, MPU Provinsi Aceh mengimbau masyarakat agar tidak memperingati malam tahun baru dalam bentuk pesta pora, hura-hura dan lainnya yang tidak sesuai dengan Syariat Islam.
Peringatan menyambut tahun baru pada dasarnya tidak ada larangan untuk diadakan selama kegiatannya dilakukan secara khidmat, sederhana, khusyuk dan thawaduk, kata Ketua MPU Aceh Prof Dr Tgk Muslim Ibrahim, MA.
Ia mengimbau agar kegiatan malam tahun baru difokuskan pada dzikir, wirid, doa, tafakkur, membaca Alquran, cermah agama, baik secara berjamaah maupun perorangan, yang dipusatkan di masjid, meunasah, musala, balee, majelis talim, termasuk di dayah-dayah dan barak pengungsi.
Dikatakannya, kegiatan-kegiatan yang tidak sesuai dengan syariat Islam dalam menyambut tahun baru, seperti meniup terompet, menyalakan lilin, kembang api, dan musik yang hingar bingar, agar dapat dihindarkan.
Sementara itu, sejumlah organisasi masyarakat dan mahasiswa yang tergabung dalam Forum Komunikasi untuk Syariat (Fokus) juga mengimbau masyarakat di Aceh untuk tidak merayakan malam tahun baru 2008 terutama dengan cara yang melanggar syariat Islam.
Kita minta masyarakat tidak merayakan tahun baru dengan cara yang melanggar syariat Islam, mengingat hal tersebut sangat bertentangan dengan norma dan agama yang berlaku di Aceh, kata Koordinator Fokus Basri Effendi.
Sejumlah lembaga yang tergabung dalam Fokus tersebut, antara lain BKPRMI, PW PII , RTA, GPI, Badko HMI, BAM, KAMMI, PMII, IMM, BPSI, GP Ansor, Iskada, Himmah, HTI, Al Risalah IAIN, Pema Usyiah, Bema IAIN, dan Fosma Unsyiah.
Menurut Basri, perayaan tahun baru merupakan budaya asing dan bukan tradisi masyarakat Aceh yang sebagaian besar menganut agama Islam, sehingga tidak perlu dirayakan.
Biasanya masyarakat Aceh yang kental dengan nilai keislamannya lebih memilih perayaan tahun baru Hijriah yang merupakan pergantian tahun Islam, bukan malah merayakan tahun Masehi dengan berbagai keigiatan yang melanggar syariat, kata dia pula. (ant/jon)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Kajati Aceh Beri Batas Waktu Tiga Bulan
Sebuah Refleksi: Pembangunan Aceh, untuk Rakyat atau Elit?
Patroli Ditingkatkan Cegah Perampokan Bersenjata Jelang Hari Raya
Pramuka Harus Mampu Jaga Keutuhan NKRI
Polri Buru Pelempar Granat Pendopo Bupati Bireun