Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Sabtu, 25 Februari 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Akses Penca Belum Terpenuhi
[Kesehatan]

Akses Penca Belum Terpenuhi

PUNCAK acara peringatan Hari Internasional Penyandang Cacat (Hipenca) di Indonesia rencananya digelar di Istana Negara hari Kamis (6/12) ini. Momen tersebut menjadi penting karena para penyandang cacat (Penca) belum memiliki hak yang sama sebagai warga negara. Untuk itu Pelita mewawancarai Dirjen Pelayanan dan Rehabilitasi Departemen Sosial, Dr Makmur Sunusi.

Sejauh ini banyak penyandang cacat merasa tidak memiliki berbagai akses, bagaimana menurut Anda?
Ya, memang demikian. Saat ini masih banyak masalah yang dihadapi penyandang cacat. Oleh karena itu perlu ada stigma positif atau lebih dalam melihat saudara kita yang menderita kecacatan.
Dalam menggunakan istilah penyandang cacat misalnya, coba deh kita kemas namanya menjadi kecacatan saja, tetapi sekarang ada juga istilah orang dengan kecacatan sehingga tidak terlalu membedakan dengan orang normal.
Persoalan besar yang dihadapi para penyandang cacat yang sekarang diperkirakan ada sekitar 3,11 persen dari total jumlah penduduk Indonesia adalah masalah aksebilitas dan masalah kesempatan kerja.
Apa ada makna khusus peringatan Hipenca digelar di Istana?
Tentu sangat bermakna. Acara ini diharapkan menjadi momen penting terutama mengenai realisasi perusahaan dalam menerima karyawan atau dalam mempekerjakan orang dengan kecacatan itu.
Seharusnya mereka (orang dengan kecacatan) mendapatkan quota sebesar 1 persen di dunia kerja. Hal tersebut sudah ada payung hukumnya yang mengatur pemberian kesempatan kerja bagi orang dengan kecacatan dan sudah ada sejak tahun 1997. Tapi ya, kenyataannya belum terealisasi. Itu juga akibat adanya stigma bahwa yang melamar pekerjaan harus sehat jasmani dan rohani.
Upaya pemenuhan kuota kepesertaan tenaga kerja dengan kecacatan pada tahap awal diprioritaskan pada Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Langkah awal pemberdayaan penyandang cacat dilakukan oleh Mensos dan Menakertrans yang akan mendorong BUMN. Selanjutnya baru ke instansi yang lain.
Langkah ini sesuai tema Hipenca tahun ini yaitu memberikan kesempatan kerja yang sama bagi orang dengan kecacatan.
Bagaimana bentuk riilnya?
Sebaiknya dibuat nota kesepahaman antara Menteri Sosial, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, serta Menteri Negara BUMN. Untuk itu harus diawali dengan sosialisasi.
Selain mengupayakan lapangan kerja, kami juga berupaya menyediakan fasilitas pelatihan untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan tenaga kerja penyandang cacat, seperti Balai Besar Rehabilitasi Vokasional Bina Daksa di Cibonong dan tempat-tempat rehabilitasi lainnya juga harus ditingkatkan kembali agar lebih aktif.
Jadi, orang dengan kecacatan ini harus harus disiapkan dan dibekali berbagai keterampilan sesuai dengan kebutuhan pasar kerja agar mampu bersaing dalam bursa kerja.
Kembali ke masalah aksesibilitas bagaimana?
Masalah aksebilitas merupakan prioritas karena memberi kesempatan orang dengan kecacatan untuk dapat berinteraksi dengan orang normal adalah melalui aksebilitas yang baik. Misalnya perbaikan infrastruktur yang berpihak kepada orang dengan kecacatan dan yang selalu diharapkan adalah terbukanya akses kerja.
Tetapi sayangnya masih banyak pemerintah daerah yang belum memberikan aksebilitas yang layak bagi orang dengan kecacatan. Demikian juga kesempatan kerja di perusahaan, masih banyak perusahaan yang belum memberikan porsi kerja, padahal kan sudah ada undang-undangnya.
Apakah ada rencana lain untuk memberdayakan orang dengan kecacatan?
Ada Rencana Aksi Nasional Penyandang Cacat Indonesia hingga 2013, adalah memberikan perhatian terhadap organisasi orang tua kecacatan, juga perhatian khusus kepada penyandang cacat perempuan.
Depsos juga telah ikut menandatangani Konvensi Hak-hak Penyandang Cacat (Convention on The Right of Persons with Disabilities/CRPD) di New York 30 Maret 2007. Selain itu juga telah berupaya menangani orang dengan kecacatan (ODK) melalui peningkatan jangkauan layanan, rahabilitasi sosial, peningkatan kualitas sumber daya manusia dan vokasional kepada para penyandang cacat seperti yang dilakukan di Balai Besar Rehabilitasi Vokasional Bina Daksa di Cibinong, Jawa Barat.(dewi purnamasari)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Ojek Ambulans Jadi Penyelamat Ibu Hamil
Kelompok Usaha Perangi AIDS
Es Krim Lezat Bisa Jadi Obat Langsing
Badam POM Perlu Alat Canggih
Askeskin Belum Matang