Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Senin, 23 Januari 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Ojek Ambulans Jadi Penyelamat Ibu Hamil
[Kesehatan]

Ojek Ambulans Jadi Penyelamat Ibu Hamil

SAAT pertama mendengar kata ambulans, dalam pikiran kita pasti sebuah mobil dilengkapi sirine yang digunakan untuk membawa pasien ke rumah sakit atau membawa jenazah. Namun, ketika kita berada di Desa Dasan Geria, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat; kita akan melihat ambulans beroda dua.
Sepeda motor disebut ambulans karena memiliki fungsi seperti mobil ambulans yaitu membawa pasien. Di Dasan Geria, ojek ambulans diutamakan untuk mengantar ibu hamil ke bidan di Pusat Kesehatan Desa (Puskesdes).
Para pengojek di desa terpencil tersebut secara sukarela siap menjaga dan mengantar para ibu yang hamil memeriksakan kandungannya ke bidan hingga pada waktu menjelang kelahiran. Para sukarelawan yang kini berjumlah 14 orang itu kini masuk dalam Tim Ambulans Desa. Tim ini selalu Siaga (siap antar dan jaga) selama 24 jam bagi ibu hamil dengan kata lain para tukang ojek di Dasan Gria turut serta dalam Gerakan Sayang Ibu (GSI) yang sudah dimulai sejak tahun 2002.
Keberadaan ojek ambulans sudah pasti sangat menolong masyarakat karena di sana belum ada alat transportasi umum yang memadai kecuali kendaraan Cidomo yaitu sejenis delman yang ditarik kuda.
Beberapa lokasi permukiman penduduk pun masih ada yang tidak bisa dijangkau dengan kendaraan roda empat karena hanya berupa jalan setapak.
Oleh karena itu, wajar jika sebelum ada program GSI banyak ibu melahirkan tidak tertolong sehingga angka kematian ibu dan anak banyak. Kini setelah Kepala Desa Dasan Geria Jumarti mampu menggerakkan masyarakat untuk menjaga kesehatan keluarganya terutama terhadap kesehatan ibu dan anak.
Di desa keci yang bergerak secara swadaya ini, hanya memiliki sebuah mobil ambulans itu pun berupa mobil Carry biasa seperti Angkot (angkutan umum kota) yang ada jok bagian pinggir dan bagian tengah kosong sehingga bisa untuk membawa pasien.
Sedangkan ojek ambulans bukanlah milik pemerintah desa tetapi milik perorangan. Sepeda motor ini milik sendiri (pribadi -Red) tetapi yang penting kami siap siaga kapan saja, yang penting ibu hamil dan orang sakit bisa tertolong diantar sampai Polindes atau Poskesdes, kata Mustarip, warga Dusun Murpeji, Dasan Geria.
Dari Murpeji sampai ke Polindes (Poliklinik Desa) diperkirakan berjarak 5 kilometer sehingga ojek ambulans sangat ideal mengantar ibu yang akan melahirkan. Kalau pakai Cidomo, ya, lama sekali. Nanti bisa bahaya kalau kondisinya semakin parah, ujarnya dengan logat Lombok.
Ditandu atau diikat
UNTUK lokasi yang hanya dapat dicapai dengan berjalan kaki, tak jarang pengojek bersama warga lainnya menandu dengan menggunakan kain yang diikat pada bambu hingga menyerupai ayunan dan si ibu naik di atas kain tersebut. Ada yang ditandu (digotong) pakai kain itu dan harus berjalan lama sampai dua jam baru sampai ke jalan, kata Umar yang juga anggota Tim Ambulans.
Bisa dibayangkan betapa repotnya membawa ibu hamil yang sudah memasuki detik-detik melahirkan. Sepeda motor yang biasanya hanya boleh ditumpangi dua orang, tetapi ojek ambulans bisa dinaiki tiga orang yakni pengojek, ibu hamil, dan pengantar.
Selain suami, dukun beranak juga sering diminta mengantar ibu hamil. Tetapi jika tidak ada bisa mengantar, maka ibu hamil tersebut membonceng dengan cara badan si ibu diikat dengan kain panjang ke badan pengojek. Motornya juga tidak boleh kencang-kencang, ujarnya.
Pengojek Tim Ambulans ini telah terlatih, selama sebulan mereka menjalani latihan untuk menghadapi situasi darurat, sehingga pengojek benar-benar siaga memberi pertolongan kapan saja diperlukan.
Sejak awal ibu-ibu hamil mendapat perhatian, di rumahnya dipasang bendera sebagai tanda di rumah rumah tersebut ada ibu yang sedang hamil. Bendera kuning dipasang di rumah ibu yang kehamilannya normal, sedangkan bendera merah dipasang di rumah ibu hamil dengan risiko tinggi.
Kami punya buku saku untuk mencatat nama-nama ibu yang sedang hamil lengkap dengan jadual pemeriksaan kandungannya dan kapan diperkirakan akan melahirkan, kata Saruji, seorang pengojek.
Lain lagi dengan pengalaman Mohamad Ali Imran dan Muhamad Anhar yang mengaku senang menolong orang lain. Tetapi mereka juga mengalami suka duka saat membawa ibu hamil yang hendak melahirkan. Kadang-kadang deg-degan, ada takutnya, tapi kami senang kalau ibu itu bisa melahirkan dengan selamat, kata Ali.
Ditanya soal honor atau upah, para pengojek yang jadi sukarelawan itu, mengaku tidak mendapatkan honor tetapi mereka mendapatkan ongkos antara Rp15.000 hingga Rp20.000 dari bidan.Itu kalau si ibu peserta Askeskin, kalau yang agak mampu ibu hamil atau keluarganya memberi uang terserah kemampuannya saja, kata Anhar.
Oleh karena itu, meskipun masyarakat Desa Dasan Geria bergotong-royong secara swadaya tetapi para pengojek juga minta perhatian pemerintah lebih ditingkatkan agar kesejahteraan masyarakat desa semakin meningkat.(dewi purnamasari)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Kelompok Usaha Perangi AIDS
Es Krim Lezat Bisa Jadi Obat Langsing
Badam POM Perlu Alat Canggih
Askeskin Belum Matang
Membangkitkan Kembali Kiprah Dokter