Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Jum'at, 24 Maret 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Askeskin Belum Matang
[Kesehatan]

Askeskin Belum Matang

KELANGSUNGAN Program Askeskin (Asuransi Kesehatan bagi Keluarga Miskin) banyak diragukan sebagian kalangan. Namun pemerintah tetap optimis menyediakan dana kesehatan untuk warganya yang miskin. Untuk itu, Pelita mewawancarai Direktur Utama PT Askes (Persero), Orie Andari Sutadji, berikut petikannya.

Dana Askeskin terkesan kurang, bagaimana menurut Anda?
Memang ada peningkatan kasus dan biaya rawat jalan tingkat lanjutan dan rawat inap tingkat lanjutan dari tahun ke tahun. Dana tahun ini pada semester pertama tersedia Rp1,7 triliun, lalu ada tambahan Rp400 miliar yang kami terima pada bulan September, dana ini diperoleh dari internal DIPA Depkes.
Dalam minggu ini diinformasikan akan cair lagi dana Askeksin sebesar Rp700 miliar dari APBN-P. Dana itu memang masih kurang, seharusnya dana yang dibutuhkan Rp4,6 triliun.
Apakah Program Askeskin dapat terus eksis?
Prospek asuransi kesehatan sosial sangat bagus untuk meningkatkan kesejahteraan sosial. Program Askeksin ini merupakan terobosan yang sangat baik dari pemerintah.
Dalam sebuah program, pasti ada perencanaan program yang baku. Program Askeskin yang baru diimplemantasikan pemerintah dan baru berjalan tiga tahun ini tentu akan mengalami proses pematanagan atau maturitas.
Artinya, program ini dari tahun ke tahun semakin dikenal oleh masyarakat dan diketahui oleh orang yang berhak mendapatkannya. Mereka juga tahu cara memanfaatkannya sehingga wajar kalau mengalami peningkatan pembiayaannya.
Program Askeskin jika sudah berjalan lama-lama akan sustain, terus berlangsung dan akan mencapai tingkat tingkat maturitas seperti asuransi kesehatan sosial pegawai negeri (PNS).
Tanda-tanda matang adalah angka pemanfaatannya mencapai yang maksimum dan tidak terjadi lagi kenaikan yang berararti. Sekarang Askeskin sudah berjalan pada tahun ketiga, mungkin kematangan Program Askeksin baru terlihat setelah lima tahun, tujuh tahun, atau 10 tahun lagi.
Berapa sebetulnya premi yang ideal untuk Askeskin?
Saat ini pemerintah menyediakan Rp5.000 per bulan per kepala/jiwa, menurut perhitungan seharusnya untuk 2007 ini menjadi Rp7.600 per bulan per kepala karena angka pemanfaatannya lebih tinggi dari 2006.
Tetapi jika dibandingkan dengan askes sosial, Askeskin masih dibawahnya, misalnya untuk rawat jalan masih seperlima dari Askes sosial. Untuk rawat inap baru setengahnya. Angka Askeskin akan mencapai kematangan jika menyamai Askes sosial.
Berarti untuk rawat jalan, angka kunjungan meningkat empat kali lagi. Sedangkan untuk rawat inap meningkat 100 persen atau dua kali lagi. Kalau angka itu meningkat, biaya yang dibutuhkan perorangnya naik pula. Maka agar program ini sustain, pemerintah dan DPR RI harus menghitung preminya dengan perhitungan aktuaria seperti itu.
Bagaimana caranya mencapai universal coverage?
Banyak hal yang perlu diperbaiki seperti pola pelayanan kesehatan harus ada standard nasional dan harus ada standard pola pembiayaan pelayanan kesehatan yang lebih transparan. Semakin memakai pola out of pocket atau pay for service berdasarkan jenis pelayanan yang diberikan, susah bagi siapa pun untuk memprediksi pelayanan kesehatan perorangan yang dibutuhkan sangat sulit.
Hal itu disebabkan karena dalam pelayanan kesehatan banyak moral hazardnya. Supply demandnya ada moral hazard yang lain juga ada sehingga sulit untuk membuat design.
Tetapi Depkes juga telah melangkah lebih maju karena sudah memulai menerapkan standard pembiayaan yang terstruktur dengan mengacu kepada INA-DRG (Indonesia Diagnostic Related Group) yaitu yang mengharuskan semua pihak mengefisiensikan penggunaan out sources tetapi tetap dengan kualitas pelayanan yang terjamin.
Jadi tinggal ada political will dan komitmen dengan persepsi yang sama, kita selangkah lagi menuju kepada universal coverage.(dewi purnamasari)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Membangkitkan Kembali Kiprah Dokter
Hati-hati Makanan dan Minuman Kadaluarsa
Terkesan Abaikan KB, Menkes Dinilai Arogan
Hati-hati Produk Makanan yang Belum Bersertifikat Halal
Anak Cacat Juga Punya Hak Menikmati Dunia