Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Jum'at, 24 Maret 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Membangkitkan Kembali Kiprah Dokter
[Kesehatan]


Membangkitkan Kembali Kiprah Dokter

SETAHUN lagi kiprah dokter Indonesia sudah seabad, seusia dengan Hari Kebangkitan Nasional. Sementara pada HUT ke-56 Ikatan Dokter Indonesia (IDI), para dokter membuat gerakan dokter untuk bangsa. Apa dan bagaimana gerakan kebangkitan nasional kedua ini? Berikut petikan wawancara Pelita dengan Ketua Umum PB IDI, Dr dr Fahmi Idris, MKes.

Gerakan seperti apa yang akan dilakukan oleh para dokter?
Sejarah mencatat 20 Mei 1908 organisasi Budi Utomo lahir kemudian diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Ini awal pergerakan nasional menuju kemerdekaan bangsa, sebuah pergerakan menuju kehidupan untuk menjadi bangsa yang terhormat.
Kaitannya di masa kini, kondisi bangsa kita belum sehat secara sempurna, masih ada trend sakit fisik-mental-sosial yang mengkhawatirkan. Jika didiamkan sungguh jadi mengerikan. Sakit mental dan sosial akan menggeser budaya yang baik seperti gotong royong dan toleransi tinggi.
Dokter harus memberi kontribusi untuk mencegahnya. Gerakan dokter untuk bangsa adalah gerakan menghimpun dan mengerahkan potensi dokter dan masyarakat untuk menyehatkan bangsa. Potensi dokter harus direvitalisasi agar terbebas dari jebakan rutinitas profesionalisme yang sempit.
Maksud jebakan itu apa?
Selama ini peran dokter lebih terlihat pada upaya penyehatan fisik dan fungsi dokter hanya menjadi agent of treatment (agen penyehatan). Seharusnya dokter juga sebagai agen perubahan dan agen pembangunan.
Agen perubahan dan agen pembangunan sebagaimana dirintis dr Wahidin Soedirohusodo. Pertama, kita akan melakukan perbaikan internal dengan melakukan pembinaan anggota. Revitalisasi internal akan terkait dengan revitalisasi eksternal yang saling terkait.
Bisa dijelaskan secara konkret gerakan dokter itu?
Kami akan melakukan kampanye, seminar, diskusi dan penggalangan CSR. IDI juga akan melakukan advokasi untuk mendorong perbaikan sistem pelayanan kesehatan nasional.
Revitalisasi baru bisa berjalan baik kalau didukung oleh sistem yang baik, baik sistem pelayanan, rujukan maupun pembiayaan kesehatan. Upaya perbaikan sistem pelayanan, rujukan, dan pembiayaan kesehatan sebenarnya telah dimulai pemerintah dengan membuat Undang-Undang Nomor 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN).
Apabila Undang-Undang itu benar-benar diterapkan, secara otomatis sistem pelayanan, rujukan, dan pembiayaan kesehatan akan baik dan profesi kedokteran juga akan bisa menjalankan fungsinya secara lebih luas.
Kaitannya dengan profesi kedokteran, sistem kesehatan seperti apa yang ideal untuk Indonesia?
Kami sedang merintis sistem dokter keluarga. Sudah ada pemerintah daerah yang melaksanakannya. Tetapi kami masih harus terus memberikan advokasi baik kepada pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.
Penerapan konsep yang diharapkan bisa memperbaiki sistem rujukan pelayanan kesehatan dan pembiayaan kesehatan. Konsep dokter keluarga juga sudah bisa diterapkan di wilayah perkotaan seperti di Jakarta.
Dengan jumlah penduduk sekitar 10 juta jiwa wilayah ini hanya membutuhkan 4.000 dokter untuk memberikan pelayanan kesehatan primer yang lebih bersifat preventif. Tinggal membangun sistem pembiayaan berbasis asuransi, sudah bisa dijalankan.
Sebetulnya dalam konsep pelayanan dokter keluarga satu dokter diplot untuk memberikan pelayanan kesehatan hanya kepada 2.500 jiwa di satu wilayah kerja dan pembiayaan pelayanannya dilakukan berbasis asuransi.
Menurut hitung-hitungan IDI, setiap individu cukup mengeluarkan semacam premi asuransi Rp10.000 per bulan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.
Dengan model prabayar, semakin sedikit pasien yang sakit pendapatan dokter akan semakin banyak. Tidak seperti sekarang, semakin banyak yang sakit semakin banyak pendapatan dokter. Perubahan paradigma ini tentu akan berdampak nyata terhadap kualitas pelayanan.
Selain dapat menekan biaya kesehatan penerapan sistem pelayanan dokter keluarga juga akan berdampak nyata terhadap penurunan insiden penyakit.
Selain itu juga dapat memberikan pelayanan yang sifatnya kuratif kepada masyarakat di wilayah kerjanya, dokter keluarga juga akan melakukan promosi kesehatan dan upaya preventif lain.
Sistem rujukan yang selama ini carut marut saya yakin lambat laun akan berjalan baik sehingga setiap kejadian penyakit dapat dideteksi di layanan kesehatan tingkat pertama sejak dini.
Dokter keluarga hanya melayani satu komunitas terbatas sehingga dia akan mengetahui kondisi kesehatan setiap pasien yang dilayani serta bisa mendeteksi dengan cepat gejala penyakit yang diderita pasien.
Jika komitmen pemerintah daerahnya untuk mempercepat pembangunan kesehatan kuat penerapan sistem pembiayaan kesehatan berbasis asuransi tidak sulit dilakukan. Pemda Bontang, Kalimantan Timur dan Padang, Sumatera Barat sudah menerapkan. Bahkan sudah ada yang menyiapkan Perda untuk itu.
Apakah Anda optimis pendekatan dokter keluarga bisa diterapkan secara nasional. Bagaimana dukungan Menteri Kesehatan?
Harus optimis dong. Menteri Kesehatan menanggapi positif, tetapi apakah bisa menjadi prioritas programnya, itu yang harus terus diperjuangkan.(dewi purnamasari)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Hati-hati Makanan dan Minuman Kadaluarsa
Terkesan Abaikan KB, Menkes Dinilai Arogan
Hati-hati Produk Makanan yang Belum Bersertifikat Halal
Anak Cacat Juga Punya Hak Menikmati Dunia
Diwaspadai, Swalayan Menjual Produk Kadaluwarso