Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Senin, 23 Januari 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Anak Cacat Juga Punya Hak Menikmati Dunia
[Kesehatan]

Anak Cacat Juga Punya Hak Menikmati Dunia

SEMUA orang tua pasti berharap dapat melahirkan dengan selamat dan mendapatkan anak yang sehat jasmani dan rohani. Namun, terkadang Tuhan berkendak lain, yang lahir adalah anak kurang sehat, tidak sempurna atau memiliki kecacatan fisik maupun psikis.
Meskipun anak terlahir tidak normal, tetapi dia juga manusia yang memiliki hak untuk menikmati dunia ini. Dalam kondisi itu, peran orangtua, keluarga, dan warga masyarakat lainnya dituntut untuk memahami serta memberi dukungan agar si anak dengan kebutuhan khusus itu tidak menjadi beban orang lain.
Seperti dilakukan oleh Panti Asuhan (PA) Bina Siwi yang berada jauh dari pusat perkotaan. Tepatnya di Komplek Balaidesa Sendangsari, Pajagan, Bantul, DI Yogyakarta. Sejak tahun 1989, panti yang bernaung dalam Yayasan Ngudi Raharjo ini telah merintis terbentuknya sekolah luar biasa (SLB), dan baru tahun 1995 mendapat izin operasional.
Bangunan yang cukup sederhana itu dapat menampung anak-anak kurang beruntung. Sebanyak 43 anak asuhnya, hanya delapan anak yang tidak menginap di panti. Yang menyedihkan lagi anak-anak tersebut hampir semuanya dari keluarga tidak mampu.
Berkat ketulusan, keikhlasan, serta kegigihan para guru pembimbing yang tak pernah pudar, sebagian besar anak-anak dengan katagori cacat B (tuna wicara dan tuna rungu) dan C (tuna grahita) bisa tertolong, minimal dia siap untuk menjadi manusia yang berguna. Sejumlah prestasi juga diraih anak-anak Panti Asuhan dan SLB Bina Siwi dari berbagai lomba antar-anak-anak cacat.
Sebetulnya bukan piala dan penghargaan saja ukuran keberhasilan itu, tetapi sejauh mana anak-anak kami bisa mandiri dan diterima di tengah masyarakat, kata seorang Pengurus Yayasan Ngudi Raharjo yang juga menjadi guru pembimbing, Jumilah kepada Pelita, didampingi pengurus lainnya, Margiyanti dan Sugiman.
Biaya sekolah sukarela
Untuk mewujudkan impian itu bukanlah hal yang mudah, seperti biasa kita dengar selalu terbentur masalah dana. Bagaimana bisa sebuah kegiatan tanpa didukung biaya.Kami tidak pernah mematok biaya sekolah, jadi tergantung kemampuan orang tua dan sukarela, kata Margiyanti.
Biasanya anak-anak yang pulang ke rumahnya pada hari Sabtu, kembali ke panti dengan membawa bekal seperti tempe, kelapa, dan sayuran-sayuran. Kemarin juga ada yang bawa daun so (daun melinjo). Setiap Sabtu memang kami mengizinkan anak-anak pulang ke rumah untuk berinteraksi dengan keluarga, ujar Margiyanti.
Makanan mentah yang dibawa akan dimasak dan dimakan bersama anak-anak lainnya. Untuk biaya operasional yang tinggi, diakuinya pihaknya juga mendapat bantuan dari Departemen Sosial tetapi belum mencukupi untuk biaya hidup.
Untuk itu pihaknya selalu mencari cara untuk mendapatkan dana. Penghematan juga dilakukan dengan cara memelihara ikan lele untuk memenuhi gizi anak-anak, memanam sayuran seperti pare dan lainnya juga untuk menu sayur yang bervariasi.
Begitu pula dalam melatih kemandirian anak, agar memiliki keahlian sebagai bekal hidup kelak. Bagi anak yang hanya mengalami bisu dan tuli tidak terlalu sulit untuk mengarahkannya, tetapi bagi anak tuna grahita atau memiliki intelegensi rendah sangat sulit diarahkan.
Anak-anak tuna grahita umumnya punya karakter dan emosional yang berbeda, sehingga cara penanganan dan pendampingannya juga berbeda. Ada juga yang menyandang ketiganya, ya tuli bisu, IQ-nya rendah lagi, itu sangat kasihan, paparnya.
Membuat emping
Tapi ternyata anak-anak yang sudah mampu mengendalikan emosinya, bisa diajari membuat emping. Awalnya, pihak yayasan membeli biji melinjo lalu diolah menjadi emping. Tetapi karena tidak bisa memasarkan maka sekarang pihaknya hanya mengerjakan membuat emping, sedangkan biji melinjo disediakan oleh pengusaha emping. Satu kilo emping kami mendapat upah Rp1.500, ungkap Margiyanti.
Selain mendapatkan uang yang dapat dinikmati oleh anak-anak, juga memberi bekal agar anak-anak cacat pun dapat berguna di masyarakat dan tidak menjadi beban keluarga. Lihat saja, mereka senang melakukan itu, ujar Jumilah kepada Pelita sambil berkeliling melihat kondisi panti.
Di bagian belakang panti, selain digunakan untuk membuat emping, juga tampak beberapa kolam berdinding tembok yang dimanfaatkan untuk memelihara ikan lele. Di sampingnya tampak pohon pare yang tumbuh subur dan segerombol pohon bayam pun ada di sana.
Di sebelahnya lagi, terpajang alat bubut yang sudah menghasilkan rupiah. Seorang tuna grahita Yudianta yang tergolong C-ringan, diminta untuk memperagakan cara membuat hiasan dari kayu. Dengan cekatan Yudianta memasang kabel listrik dan menyalakan mesin bubut lalu memperagakan membuat bagian dari hiasan patung.
Ini caranya begini, ujar Yudianta menjelaskan dan tampak dari wajahnya ada kepercayaan diri yang muncul dari dalam dirinya. Menurut Jumilah, selain Yudianta ada satu anak lagi dari tuna grahita golongan B juga mampu membuat berbagai hiasan kayu seperti mangkuk tempat sirih.
Memang belum semua bisa dikerjakan oleh kedua anak tuna grahita ini. Pengrajin patung, hanya memberi order misalnya tongkatnya saja, atau bagian-bagian yang mudah dikerjakan. Memang masih terbatas, tetapi mangkuk buatan Ngatijan dapat pujian karena bisa sangat simetris,jelas Jumilah.
Bahkan Ngatijan yang berada di panti sejak 1989 pun tidak mau pulang ke rumah, kini dia menjadi salah satu karyawan di PA Bina Siwi. Banyak anak-anak yang betah di sini, tetapi kami selalu mengupayakan agar tetap berinteraksi dengan keluarga, katanya.
Di sisi lain, pihaknya bukan mudah merayu para orangtua agar menyekolahkan anaknya di Bina Siwi. Banyak orang tua yang takut biayanya mahal dan berbagai alasan misalnya transportasi, sebab tidak semua orang tua tega menitipkan anaknya di panti.
Perjuangan para pembimbing Bina Siwi sering terkendala oleh kurangnya sarana dan prasarana. Sebetulnya kami butuh mobil untuk menjemput anak-anak dengan kebutuhan khusus yang belum mau tinggal di sini (di panti itu, karena kalau pakai sepeda motor satu-satu waktunya lama dan kadang ada yang anaknya masih loncat-locat, kata Sugiman, seorang pembimbing di sana.
Mungkin karena letaknya jauh, panti asuhan ini hampir luput dari bantuan-bantuan pihak swasta. Kami juga mau jika ada pihak swasta yang membantu untuk keperluan kesehatan pribadi seperti alat mandi dan cuci, ya, pokoknya apa saja yang penting berguna buat anak-anak kami, kata Sugiman yang diamini Jumilah dan Margiyanti.(dewi purnamasari)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Diwaspadai, Swalayan Menjual Produk Kadaluwarso
Sekitar 1,7 Juta Balita Terancam Bergizi Buruk
Mabes Polri Sita Obat Dicampur Semen Putih
Dokter Puskesmas Manfaatkan Teknologi Geospasial
Perempuan Mapan Tidak Tertarik Dunia Politik