Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Minggu, 19 Februari 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
AKI Lebih Tinggi dari Angka Nasional
[Pariwisata]

AKI Lebih Tinggi dari Angka Nasional

Bengkulu, Pelita
Jumlah angka kematian ibu melahirkan di Bengkulu saat ini 307 per 100 ribu kelahiran hidup atau Lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional 303 per 100 ribu kelahiran hidup.
Sedangkan angka kematian bayi yang dilahirkan saat ini masih 35 per 1.000 kelahiran hidup, kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu Bambang Soeseno di Bengkulu, kemarin.
Memang masih cukup tinggi tapi upaya menurunkan angka kematian ibu melahirkan dan bayi yang dilahirkan itu terus dilakukan, salah satunya dengan pembentukan desa/kelurahan siaga, dan menempatkan bidan di desa/kelurahan guna memperdekat pelayanan perawatan kesehatan bagi ibu yang sedang mengandung hingga melahirkan.
Dengan telah ditempatkannya bidan pada semua desa/kelurahan, perawatan terhadap ibu yang mengandung bisa optimal. Sesuai aturan, selama menjalani kehamilan harus dicek sebanyak empat kali.
Saat melahirkan mereka juga ditolong oleh ahlinya, baik bidan maupun petugas kesehatan di pusat pelayanan kesehatan yang ada, katanya.
Mengenai desa siaga pada 2008 diharapkan seluruh desa dan kelurahan telah menjadi desa atau kelurahan siaga, yang didalamnya terdapat pusat-pusat pelayanan yang didukung tenaga kesehatan. Di Provinsi Bengkulu terdapat 1.178 desa/kelurahan.
Pada 2006 telah dibangun 150 desa dan kelurahan siaga, dan pada 2007 dibangun 300 desa dan kelurahan siaga. Selain untuk meningkatkan pelayanan, pembentuk desa siaga sebagai upaya menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan, baik jasmani maupun lingkungannya.
Pada desa siaga itu dibentuk poliklinik desa yang dilengkapi dengan tenaga kesehatan dan fasilitas lain yang kini sudah ada seperti Puskesmas dan Puskesmas Pembantu.
Mengenai tenaga dokter tidak akan ditempatkan. Poliklinik desa itu dibawah koordinasi Puskesmas yang telah memiliki dokter, jadi pelayanannya tetap optimal.
Ia juga menyatakan pembentuk desa siaga itu dalam rangka mewujudkan desa sehat yang akhirnya terbentuk kecamatan dan kabupaten/kota sehat guna mendukung program Bengkulu sehat 2010.
Pembentukan desa siaga itu merupakan program pemerintah pusat, karena itu kebutuhan dana untuk kegiatan tersebut dianggarkan dari APBN.
Ia membantah jika pembentukan desa siaga itu akibat kurang tertanganinya pelayanan kesehatan pada masyarakat karena masih sedikitnya sarana kesehatan di daerah itu.
Pelayanan kesehatan selama ini relatif bagus. Kita memiliki cukup banyak sarana pelayanan kesehatan dan tenaga medis, katanya.
Di Provinsi Bengkulu saat ini terdapat delapan unit rumah sakit, 123 unit Puskesmas, 473 unit Puskesmas Pembantu, 1.731 unit Posyandu, 605 unit Posyandu Pratama, 685 unit Posyandu Madya, 362 unit Posyandu Purnama dan 79 unit Posyandu Mandiri.
Kemudian tenaga medis sebanyak 473 orang, perawat/bidan 3.291 orang, farmasi 154 orang, gizi 130 orang, teknis medis 162 orang, sanitasi 151 orang dan kesehatan masyarakat 192 orang. Jumlah sarana palayanan dan tenaga kesehatan itu cukup ideal untuk melayani 1,7 juta jiwa penduduk Bengkulu.
Dibutuhkan dokter
Dari Bengkulu Antara memberitakan Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Provinsi Bengkulu Bambang Soeseno menyatakan Provinsi Bengkulu masih memerlukan penambahan tenaga dokter untuk ditempatkan di setiap Pusat Pelayanan Kesehatan (Puskesmas) dan Puskemas perawatan di daerah itu.
Bambang menjelaskan pihaknya menargetkan agar setiap Puskesmas terdapat minimal dua dokter umum dan satu dokter gigi, sementara untuk Puskesmas perawatan tiga dokter umum dan satu dokter gigi.
Kita akan berupaya menambah tenaga dokter di Puskesmas dan Puskesmas perawatan itu. Ini diperlukan agar pelayanan kesehatan pada masyarakat bisa lebih optimal, katanya.
Saat ini setiap Puskesmas rata-rata baru memiliki satu tenaga dokter, sementara Puskesmas peratawatan rata-rata dua orang.
Dia mengaku terus melakukan koordinasi dengan para pemegang kebijakan, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, dengan harapan saat penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) ada formasi untuk dokter dan dokter gigi.

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Obat Serba Seribu Dijamin Mudah Diakses
Alat Kontrasepsi Gratis untuk Desa Terpencil
Mutu Obat Murah Tak Diragukan
Indonesia Gagal Penuhi Target Ketujuh MDGs
Korban Gempa Dapat Pilih Rekontruksi Rumah