Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Selasa, 24 Januari 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Kekesalan Sang Kapten
[Lemb Anak Indonesia]

Oleh: ARIYA HADI PAULA



"Yang benar dong kalau main!" hardik Gatot.


"Kamu bawel banget sih !" jawab Aji tak kalah gusar.


Sejak perseteruan kedua pemain itu, permainan tim Bahrul Ulum memburuk. Kerjasama tim yang biasanya kompak seakan-akan hilang begitu saja. Gaya umpan kaki ke kaki yang selama ini jadi ciri khas tim berkostum hijau-hijau ini tak terlihat. Yang muncul malah permainan individu, alias main sendiri-sendiri.


Gatot sebagai kapten kesebelasan yang biasanya tegas dan mampu memimpin kawan-kawannya, kini bermain penuh emosi. Beberapa peluang menciptakan gol, disia -siakan begitu saja.


"Bagi teman terdekat dong Tot!" teriak Ucok dari pinggir lapangan, setelah melihat Gatot terlalu bernafsu , menciptakan gol sendiri tapi tak berhasil. Seandainya pada pertandingan penyisihan kemarin Ucok tidak terkilir, tentu dia sudah dimainkan oleh pelatih untuk menggantikan Gatot .


Hasilnya, Bahrul Ulum kalah telak 3-0. Tim bocah Yunior yang sebetulnya tidak lebih hebat dari mereka malah lolos ke final , Gatot hanya tertunduk lesu.


"Tidak apa-apa deh, malah kita harus bersyukur karena bisa mencapai target lolos ke semi final." tutur Kak Fajri dengan bijak untuk membesarkan hati anak-anak Bahrul Ulum.


Tapi para pemain cilik itu hanya terdiam, tak ada yang mengiyakan juga tak menjawab. Bahkan Gatot, yang dipercaya jadi kapten pamit, pulang lebih dulu tanpa minum air yang telah disediakan Kak Fajri di pinggir lapangan. Tingkah Gatot itu disusul Aji yang pulang begitu saja tanpa sepatah katapun.


Kak Fajri hanya geleng-geleng kepala melihat kedua anak asuhnya itu. Padahal mereka berdua adalah andalan utama di tim Bahrul Ulum. Sementara sebagian anak-anak berbisik-bisik mengomentari Aji dan Gatot.


Sampai di rumah, Gatot buru-buru membuka lemari es dan menenggak habis sebotol teh manis yang telah disiapkannya sebelum main bola tadi. Selanjutnya diraih beberapa buah pisang ambon dimeja, langsung dimakannya juga.


"Aduh." Tiba-tiba Gatot teriak kesakitan.


"Sudah berapa kali kakak bilang, jangan taruh sepatu bola sembarangan! Kotor tahu!" omel Kak Indri sambil mencubit paha Gatot sekeras-kerasnya.


"Astaghfirullah! Indri! Sudah ibu bilang kalau menasehati adik jangan sambil menyakiti, kamu khilaf ya?" tegur ibu yang muncul dari dapur karena kaget mendengar jeritan Gatot.


"Ma'af bu, habis gemes sih. Sudah dibilang beberapa kali jangan menaruh sepatu sembarangan, tapi tak pernah didengarkan, seperti orang meledek.


"Ma'afkan Kak Indri bu, memang Gatot yang salah. Habis lagi kesal. Tim Gatot kalah bu." Ujar Gatot membela kakaknya.


"Lho, kamu lupa ya jika kesal itu artinya marah, dan marah itu tidak diseukai Allah, kamu mau dimarahi Allah?"


"Ya enggak mau dong bu."


"Karena itu jangan kesal dong. Akibatnya kita jadi lupa diri dan merugikan orang lain, iya kan?" kata ibu sambil mengelus kepala anak bungsunya ini. Keluarga mereka termasuk keluarga Berencana yang sejahtera lho.


"Iya deh, lain waktu Gatot berusaha tidak kesal lagi. Tapi bu, habis maghrib nanti, Gatot tidak mengaji dulu ya." kata Gatot sambil membuang kulit pisang ke bak sampah di dekat pintu kamar mandi.


"Lho, kenapa?" ibu heran, sementara Kak Indri telah bergegas ke pekarangan untuk menyirami bunga-bunga kesayangannya. Pada saat itulah ayah pulang. Ibu lekas menyambutnya dan Gatot segera masuk ke kamar mandi takut terlihat ayah.


Tak lama kemudian semua penghuni rumah telah berkumpul dihalaman belakang. Tampak ayah sedang membelah beberapa buah durian. Harumnya begitu memikat di hidung, hingga Gatot yang belum sisiran sudah ikut nimbrung, takut kehabisan.


"Kenapa kamu tidak mau mengaji?" tanya ayah.


"Lagi males ketemu Aji, Yah."


"Kamu marahan ya ?"


Gatot hanya menggeleng pelan, lalu dengan singkat diceritakanlah bagaimana ketika bermain tadi, Aji selalu membantah perintahnya. Padahal sebagai kapten kesebelasan, wajar jika Gatot memberitahukan tugas teman-teman yang lain agar tim bermain baik.


Tapi karena begitu seringnya Aji membantah, bahkan dengan kata-kata yang kasar. Maka hilanglah kesabaran Gatot, mereka terlibat percekcokan.


Gatot enggan membagi bola ke Aji walau posisinya sudah tak menguntungkan. Akhirnya teman-teman yang lain ikut terpengaruh, tidak ada lagi permainan kompak, yang ada hanyalah saling menonjolkan diri sendiri, dengan begitu musuh yang tampil solid bisa menang mudah.


Mendengar cerita Gatot giliran ayah yang geleng-geleng kepala. "Mungkin cara kamu yang salah."


"Lho kok ayah malah menyalahkan Gatot?"


"Biar kamu dipilih sebagai kapten, pemimpin kesebelasan, jangan kamu memerintah atau menyuruh tapi memintalah dengan sopan dan penuh harap," nasehat ayah.


Gatot memikirkan dalam-dalam maksud nasehat ayah, selama ini dipercaya sebagai kapten tentu karena sifatnya yang tidak pernah menonjolkan diri sendiri, tak pernah memerintah, tapi selalu meminta dengan sopan seperti yang selalu diajarkan ayah dan ibu, tapi kenapa hari ini sebaliknya.


Mungkin inilah yang disebut sebagai korban nafsu. Nafsu ingin menang, ingin ke final tapi malah kalah. Gara-gara nafsu jadi marah-marah dan khilaf, demikian pikir Gatot.


"Assalamu'alaikum!" teriak seorang anak dari depan.


Gatot segera keluar, ternyata yang memberi salam adalah Aji. Pakaiannya rapih, memakai, memakai kopiah dan membawa Juz'amma siap pergi ke Mushollah. "Ngaji enggak?" sapanya.


Masih terheran-heran dan perasaan ragu Gatot hanya menggaruk kepalanya. Sementara Aji menyodorkan tangannya ingin menjabat tangan Gatot.


"Ma'af ya Pak Kapten, saya enggak nurut, habis kita main penuh emosi sih, nafsu lolos ke final," katanya tulus.


Gatot hanya tercengang, seharusnya dia yang minta ma'af pada Aji karena telah berlaku tidak seperti seorang pemimpin. Rasanya gelar Kapten sudah tak layak disandangnya lagi. tapi Aji membesarkan hati Gatot, kalah menang itu wajar katanya.


"Alhamdulillah, kalau gitu masuk dulu yuk, kita cobain durian, enak deh." ajak Gatot. Kebetulan ibu keluar hendak mengambil tempat sampah.


"Eh Aji, mau ke Musholla ya ?" tanya ibu.


"Iya bu, juga nyamper Gatot." jawab Aji.


"Oh iya, terima kasih ya atas durian yang diberi ayah kamu. Manis sekali, si Gatot aja sudah habis lima."


Mendengar kata-kata ibu itu Gatot kembali tercengang, matanya memandang Aji penuh penyesalan, sementara azan Maghrib telah berkumandang.

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Nuansa Ayu Jawadwipa, Raih Prestasi dengan Belajar
Madrasah Ibtidaiyah Negeri Bulaksari, Mengembangkan Minat Anak Terhadap Tanaman