Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Selasa, 24 Januari 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Nuansa Ayu Jawadwipa, Raih Prestasi dengan Belajar
[Lemb Anak Indonesia]





Di antara kalian pasti sudah ada yang nonton film Bendera. Ceritanya sederhana saja, tetapi penuh makna dan istimewa. Bagaimana tidak? Film Bendera ini tanpa skenario yaitu naskah cerita yang harus dihafal oleh pemeran-pemerannya sebelum syuting. Dan syutingnya hanya berlangsung 10 hari dari jadwal rencana syuting 18 hari.


Pada kesempatan ini, yuk, kita berkenalan dengan Nuansa Ayu Jawadwipa sebagai Rosi, pemeran utama putri dan pemeran utama putra Havids sebagai Budi.


Saya menjumpainya tatkala Nuan, begitu panggilan sehari-hari, sedang berlatih teater bersama teman-temannya di TIM.


Ia memang sudah akrab dengan kamera. Sewaktu duduk di kelas 2 SD tahun 1997 ia sudah main senitron Ikhlas. Itu senitron kedua dan film Bendera (2002) adalah film layar lebar yang pertama. Judul senitron pertamanya ia sudah lupa.


Film Bendera yang disutradarai oleh Nan Achnan itu ceritanya sederhana saja. Hari Sabtu Budi dan Rosi, murid salah satu SDN di Jakarta, mendapat tugas dari guru. Mereka diminta mencuci dan menjahit bendera merah putih yang akan dikibarkan pada upacara bendera hari Senin.


Setelah pulang sekolah, mereka membawa pulang bendera tersebut. Budi dan Rosi tinggal bersebelahan di sebuah gang di Kota Jakarta. Ibu Budi dan Ibu Rosi kakak beradik.


Menjelang sore, Budi yang semula ingin memberi tahu ibunya tentang bendera itu, mengurungkan niatnya karena ibunya sedang sibuk mengurus adik perempuannya. Budi merendam bendera tersebut dengan air sabun di dalam sebuah ember di depan kamar mandi yang terletak di samping rumah. Minggu pagi, Budi yang ketiduran dan Rosi keasyikan nonton topeng monyet tidak sadar bahwa ember itu dipakai untuk mencuci bajaj kepunyaan Bang Ali, tetangganya. Budi sangat panik waktu mengetahui benderanya hilang. Ia memanggil Rosi dan mereka mulai mencari.


Sejak itulah, Budi dan Rosi memulai petualangannya mencari bendera merah putih yang hilang.


"Nuan, senang main film Bendera. "tanya Pelita.


"Ada senangnya, ada juga capeknya karena harus lari-lari berpanas-panas mencari bendera merah putih yang hilang. Aku dan Havids (Budi) kejar-kejar tukang lowak yang membawa bendera merah putih itu. Rupanya bendera merah putih yang sedang dijemur jatuh ke tumpukan barang-barang bekas yang kemudian diambil tukang lowak. Aku dan Budi mencari tukang lowak dengan naik bajaj, kareta listrik ke Depok, bahkan pernah numpang truk sewaktu di Depok."


"Kalian susah-susah mencari bendera merah putih yang hilang. Apa ada terpikir ingin menggantinya dengan membeli bendera merah putih yang baru?"


"Bagiku, " kata Nuan, "bendera merah putih adalah pusaka. Mungkin saja bendera merah putih sekolah itu mempunyai riwayat. Karena itu, aku dan Budi harus terus mencarinya sampai ketemu. Jadi, nggak bisa diganti."


Gadis cilik yang lincah dan manis ini dilahirkan di Jakarta pada 23 Oktober 1990 adalah putri pasangan Bapak Jose Rizal Manua dengan Ibu N. Raraswati. Nuan adalah anak kedua putri pertama. Kini, Nuan duduk di kelas 1 SLTP Negeri 1, Jakarta.


Menjawab pertanyaan di mana Nuan belajar seni peran, gadis berambut panjang, penyuka pizza, es jus dan bakso ini menjelaskan.


"Aku belajar seni peran dan baca puisi di Teater Tanah Air. Ayah yang memimpin teater ini. Pada tahun 2001 aku naik pentas dalam cerita Suling dan menang dalam festival teater se-DKI Jakarta.


"Film Bendera tanpa skenario, bagaimana pelaksanaanya?"


"Sebelum syuting dimulai aku, Budi dan pemain lain diberi tahu nanti aku banyak lari-lari. Dan waktu di lokasi syuting langsung beradegan dan sutradara memberi pengarahan dan disuruh ngomong begini-begini. Ya, begitu saja."


"Tidak sulit menghafalnya.?"


"Nggaklah! Omonganya juga pendek-pendek. Jadi, inget. Nggak sulit kok. Lancar aja."


"Jadi, ditemukan benderanya?"


"Ya, ditemukan di daerah Manggarai", jawab Nuan.


Sementara, Ibu N. Raraswati mengatakah bahwa berangkat syuting dari rumah sekitar pukul 4.30 dan pulang 18.00. untunglah, ia mendapat izin dari sekolah. Namun, karena waktu itu Nuan menghadapi ujian akhir SD, maka ia didampingi tutor, guru, selama melakukan syuting, juga Budi. Tutor ini disediakan oleh produser.


Selain main teater, menari dan hobi basket, Nuan juga suka baca puisi, di antaranya baca puisi dalam acara "Puisi Merah Putih", pada "Hari Koperasi" di Gedung Graha Bakti Budaya (TIM), dalam acara Iwan Fals "Ayo Bersatu", baca puisi bersama Ayah, Jose Rizal Manua, dan baca puisi di depan Presiden B.J. Habibi (1999).


"Nuan suka tulis puisi?"


"Nggak!"


"Siapa bintang idolamu?"


"Sherina."


"Apa cita-citamu?"


"Jadi pramugari"


Nuan mengatakan bahwa selain dirinya dan Havids, film Bendera juga didukung oleh Agus Jali, Indah, Karlina dan Sofyan, dll.


Bagi teman-teman yang ingin berkenalan dengan Nuan inilah alamatnya : Jl. Salemba Tengah VII No. 35, Jakarta Pusat 10440. Itulah, selintas perjalanan karier Nuansa Ayu Jawadwipa. (lai)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Madrasah Ibtidaiyah Negeri Bulaksari, Mengembangkan Minat Anak Terhadap Tanaman