Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Sabtu, 25 Februari 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
KAJI FILSAFAT
Laporan: Husain Heriyanto

[Dunia Tasawuf]




 

ETIKA, DUNIA IDEA DAN LOGIKA


 


PENGANTAR


            Dalam dua tulisan terdahulu telah kita uraikan perkembangan pemikiran pada era Yunani klasik, yaitu berawal dari keprihatinan moral Socrates lalu berkembang dengan tumbuhnya gagasan-gagasan filosofis pada filsuf-filsuf sesudahnya, khususnya Plato dan Aristoteles.   Pengungkapan kenyataan ini tidak hanya bersifat historis belaka, namun ada hikmah atau nilai yang berharga yang dapat kita petik.  Pertama, munculnya gagasan-gagasan filosofis yang besar-besar seperti yang dicetuskan oleh, dalam kasus ini,  Plato dan Aristoteles, tidak turun dari langit secara tiba-tiba (taken for granted), melainkan hasil dari pergulatan dan pergumulan dengan kehidupan nyata sehari-hari.   Kedua, kita melihat bahwa prinsip-prinsip etika dan logika berasal dari sumber yang sama; dan hal ini menunjukkan bahwa nilai  moral terkait erat dengan pengetahuan; bahwa nilai subyek terkait erat dengan fakta obyek; bahwa hati terkait erat dengan nalar.


 


Hubungan Motivasi Etis dan Idea-Idea


            Kolom pekan lalu menyebutkan adanya empat kemungkinan asal usul lahirnya gagasan Dunia Idea Plato. Pertama, gagasan itu berasal dari kehendak Plato untuk melakukan sintesis paham perubahan-kejamakan Heracleitos dengan paham kekekalan-kesatuan Parmenides.  Kedua, ajaran Idea Plato itu berhubungan dengan minat Plato kepada ilmu-ilmu pasti (matematika) yang obyek kajiannya adalah lambang-lambang (formal).  Ketiga, ajaran Idea Plato lahir dari pertimbangan epistemologis, yaitu kehendak Plato untuk menjamin perolehan dan kesahihan pengetahuan.  Keempat, ajaran Idea Plato itu terkait erat dengan komitmen moral Plato yang hendak mencari dukungan ontologis dan epistemologis agar dapat memberi basis yang kokoh bagi keutamaan-keutamaan moral.


            Secara singkat kita dapat menentukan pilihan mana yang paling memungkinkan.  Jika kita mengacu kepada dialog-dialog Plato, pandangan dan sikap hidupnya, serta kesetiaannya kepada keprihatinan/ajaran moral gurunya, Socrates, maka kita akan cenderung memilih kemungkinan yang terakhir, yaitu bahwa asal usul munculnya doktrin Idea-Idea Plato bersumber dari komitmen moralnya yang sangat teguh dan konsisten.  Setidaknya, ada lima alasan untuk berpendapat demikian.


            Pertama, penggunaan konsep Idea-Idea melalui mulut Socrates dalam dialog-dialog Plato (karya-karya Plato) dapat dipahami sebagai upaya Plato mengidentifikasi pemikirannya dengan gurunya tersebut.  Mengingat Socrates tidak meninggalkan tulisan, sementara muridnya yang paling memahaminya adalah Plato, maka Plato merasa bahwa ia adalah juru bicara yang paling sah dari Socrates.  Walaupun demikian, kita tetap dapat membedakan pemikiran asli Socrates dengan Plato.  Kesaksian Aristoteles dalam Metaphysics menyebutkan, “Socrates tidak memandang definisi-definisi universal sebagai eksistensi terpisah.  Plato lah yang membuat pemisahan tersebut, dan jenis entitas ini disebutnya sebagai ‘Idea-Idea’.”  Dalam Phaedo, Plato menyebut Idea-Idea ini  sebagai eidos.


            Kedua, Idea-Idea yang diungkapkan Plato dalam dialog-dialognya didominasi oleh pengertian-pengertian etis, misalnya kebaikan, keindahan, keadilan atau keberanian.  Ketika hendak menjelaskan pengertian “Form” sebagai substansi obyektif yang berdiri sendiri, Plato mengambil contohnya dengan pengertian-pengertian etis.  Dalam Symposium, misalnya, Plato mengatakan, “Keindahan (beauty) tidak dimanifestasikan sebagai sebuah muka atau sebagai tangan atau benda-benda jasmani lainnya, tidak juga sebagai wacana atau ilmu pengetahuan, tidak juga sebagai pengada yang terdapat pada makhluk hidup atau bumi atau langit atau dalam apapun lainnya; tetapi sebagai “existing itself by itself with itself” (keberadaan  diri oleh dan dengan dirinya sendiri), selalu unik dalam ‘form’.  Sedangkan seluruh keindahan hal-hal lainnya berpartisipasi sesuai dengan cara pengada (form) tersebut.”  Argumen tambahan yang memperkuat alasan kedua ini adalah disebutnya “Idea Kebaikan” oleh Plato sebagai Idea tertinggi dalam hirarki Idea-Idea.  Bukankah Idea Kebaikan termasuk ke dalam pengertian dasar etika?


            Ketiga,  bahwa Idea-idea yang memiliki realitas tersendiri, terlepas dari segala pengaruh dunia indrawi adalah sebuah upaya Plato dalam meneruskan usaha Socrates menentukan hakekat atau esensi keutamaan-keutamaan moral.  Dengan doktrin bahwa Dunia Idea yang obyektif, tetap, dan universal, Plato telah memberi landasan ontologis dan epistemologis akan keuniversalan nilai-nilai moral yang diperjuangkan Socrates sepanjang hidupnya.  Melalui ajaran itu, Plato mencoba membuktikan bahwa Idea Kebaikan, Idea Keadilan, Idea keberanian dan Idea-Idea lain adalah real dan obyektif; tidak seperti pandangan relativistik kaum Sofis.  Seperti diketahui, Plato tidak kalah tajam serangannya dibanding Socrates terhadap kaum Sofis.


            Keempat, kehidupan praktis Plato menunjukkan bahwa dia memiliki keteguhan, kepekaan dan keprihatinan moral yang besar.  Pengunduran cita-citanya terjun ke dunia politik adalah reaksi atas kotornya permainan politik penguasa ketika itu yang sebagian diantara penguasa itu justru termasuk keluarga Plato sendiri.  Perhatian Plato terhadap kehidupan politik terkait erat dengan keprihatinan moral.  Ketiga karya politik Plato: Republic, Politicus, dan Laws sangat kental diwarnai oleh  nilai-nilai keadilan, kebajikan, keharmonisan dan kesatuan (solidaritas).


            Kelima, bahwa dua pendapat/kemungkinan lain, yaitu pertimbangan epistemologis dan sintesis Heracleitos-Parmenides sebaga sumber kemunculan ajaran-ajaran Idea-Idea Plato, dapat kita anggap sebagai bagian atau perkembangan dari pertimbangan etis/moral.  Pertimbangan epistemologis didasarkan pada usaha mencari jaminan obyektivitas sumber pengetahuan; sementara pertimbangan sistesis Heracleitos-Parmenides dialaskan pada tujuan untuk menghilangkan perbedaan-perbedaan pendapat, subyektivitas dan kejamakan.   Dengan demikian, kedua pandangan/pertimbangan ini (ontologis dan epistemologis) dengan sendirinya telah tercakup ketika dengan motivasi etis Plato membuktikan adanya Idea-Idea yang real, obyektif, tidak jamak, dan universal.


            Adapun kemungkinan pendapat lainnya yang mengaitkan ilmu pasti dengan ajaran Idea-Idea Plato dapat disanggah dengan mengutip kesaksian Aristoteles dalam Metaphysics.  Aristoteles menyebutkan Plato berpandangan bahwa entitas-entitas matematika terletak di antara ‘Form’ (Dunia Idea) dan benda-benda indrawi, dan disebut oleh Plato sebagai ‘intermediate position’.  Idea-idea matematika sebagai ‘intermediate position’ juga nampak pada konsep pendidikan Plato yang terdiri dari tiga (3) tahap, yaitu: (1) tahap pendidikan taruna dengan musik dan olahraga; (2) tahap pendidikan matematika; dan (3) tahap pendidikan metafisika.  Pada tahap terakhir inilah Plato menghendaki peserta didik telah dapat memandang Dunia Idea-idea, khususnya Idea tertinggi, yaitu Ide Kebaikan. Dalam bahasa agama, Idea Kebaikan itu disebut dengan nama Tuhan.


            Dengan demikian, melalui kelima alasan yang telah dipaparkan di muka, teranglah sudah bahwa Idea-Idea Plato bersumber dari motivasi etis Plato untuk meneruskan perjuangan mencari kebenaran obyektif nilai-nilai moral yang telah dirintis Socrates.  Dengan kata lain, dapat kita katakan bahwa Dunia Idea Plato merupakan transformasi epistemologis dan ontologis dari nilai-nilai moral.


 


LOGIKA FORMAL ARISTOTELES


Latar Belakang Pemikiran Aristoteles


            Aristoteles lahir pada tahun 384 SM di Stageira, sebuah kota di Yunani Utara, dan meninggal di Kalkis pada tahun 322 SM.  Ia belajar elama 20 tahun dalam Akademia Plato.  Ayahnya adalah seorang dokter, dan atas bimbingan ayahnya Aristoteles sejak kecil telah banyak menaruh perhatian kepada ilmu-ilmu alam. Pengalaman ini berpengaruh terhadap pandangan ilmiah dan filosofisnya di kemudian hari. 


            Aristoteles tidak menyetujui ajaran Dunia Idea Plato yang memisahkan Idea dengan benda kongkrit.  Ia mengajukan teori hylemorphism (hyle = materi; morphe = eidos = bentuk) yang menyatukan bentuk dan materi dalam benda-benda kongkrit.  Bentuk adalah esensi suatu benda dan tidak berdiri sendiri, melainkan selalu bersama materi; demikian juga materi tidak pernah lepas dari bentuk.  Bagi Aristoteles, bentuk (eidos) adalah asa yang imanen atau yang berada di dalam benda.


            Pandangan Aristoteles tentang bentuk yang imanen di dalam benda didasarkan pada analisis bahasa yang digunakan Socraes ketika mencari esensi (ousia).              Dalam penjelasannya yang hendak membedakan Socrates dengan Plato, Aristoteles menyebutkan bahwa Socrates tidak beranggapan definisi umum (esensi) sebagai keberadaan yang terpisah sebagaimana yang dianut oleh Plato dengan konsep Ideanya.  Pernyataan yang disebut Socrates bahwa  Form (F) belongs to X” dalam bahasa Yunani sehari-hari dimaksudkan untuk menyatakan bahwa “X has the property F”; atau dapat dinyatakan dengan lebih sederhana: “F is in X” (Forma berada di dalam entitas X).

Dengan demikian, apabila Plato menawarkan Idea (eidos =  forma) sebagai realitas terpisah dari dunia jasmani sebagai esensi atau definis umum ang dicari Socrates, maka Aristoteles mengajukan Bentuk (Forma) yang terdapat di dalam dunia kongkrit sebagai esensi.  Jadi, Forma yang dikemukakan oleh Aristoteles boleh dipandang sebagai Idea Plato yang imanen dalam benda-benda kongkrit.   Itulah sebabnya mengapa Plato dipandang sebagai tokoh filsuf Idealisme sedangkan Aristoteles kerap digambarkan sebagai filsuf yang realis dan analitis
 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Jalan Kembali ke Ilahi
Makna Kesedihan