Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Kamis, 23 Maret 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Kongres Kebudayaan Butuh Langkah Nyata
[Budaya]





KONGRES kebudayaan yang berlangsung di tengah hiruk-pikuk kehidupan bangsa Indonesia, membutuhkan ruh agar langkah nyata menjadi agenda aksi. Sejak Indonesia merdeka sudah enam kali berlangsung kongres kebudayaan, namun tidak membuangkah langkah nyata.


Kekhawatiran berlebihan mewarnai setiap kali berlangsung kongres kebudayaan, namun tidak ada langkah nyata yang memberi manfaat bagi penggerak seni di masyarakat. Semuanya sebatas keprihatinan adanya ancaman terhadap budaya milik masyarakat dan bangsa Indonesia, tapi sebatas itu dan tidak tergerak untuk berupaya menghilangkan kekhawatiran yang ada.


Ketua Umum Badan Kerja sama Kesenian Indonesia (BKKI) Drs H Soeparmo menanggapi rencana kongres kebudayaan Indonesia ke-6 yang berlangsung dalam suasana eforia kebebasan, namun dinilai tidak bermakna bagi kelangsungan kebudayaan bangsa Indonesia secara menyeluruh. Kongres hanya berdebat memperbincangkan berbagai problema, namun tidak kunjung mencari jalan keluar untuk mengatasinya.


"Sejak kongres kebudayaan pertama tahun 1948 di Magelang ada satu benang merah yakni kekhawatiran akan kelangsungan kebudayaan bangsa," paparnya sambil mengemukakan, kekhawatiran yang tidak dibarengi dengan langkah kongkrit sehingga tidak memberi makna bagi usaha menyelamatkan kebudayaan dari ancaman pengaruh dari berbagai belahan dunia.


Kebudayaan bangsa di tengah percaturan masyarakat global menurut penggerak kesenian ini, tidak mungkin menutup diri melainkan berinteraksi positif. Permasalahannya apakah ada kemampuan dari kebudayaan milik bangsa sendiri untuk berinteraksi dengan berbagai peradaban di dunia.


Selama ada kebanggaan atas budaya bangsa sendiri, akan ada usaha untuk mempertahankan. Sebaliknya kalau tidak ada kebanggaan dan rasa memiliki kebudayaan maka tidan akan ada pembelaan atas kebudayaan. "Pemilik kebudayaan itu sendiri yang akan mempertahankan kekayaan budaya," paparnya.


Masyarakat bangsa Indonesia menurut mantan Kepala Dinas Kebudayaan dan pendiri Dewan Kesenian Jakarta ini, tidak memiliki kebanggaan dengan kebudayaan sendiri. Sebagai akibatnya banyak khasanah budaya yang terancam, tergusur dari percaturan masyarakat dan bangsa di dunia.


Kebanggaan sebagai bangsa Indonesia hampir hilang di tengah kehidupan bersama, di luar negeri citra masyarakat dan bangsa Indonesia sangat terpuruk. Masyarakat Indonesia di luar negeri, mengalami keterpurukan itu sehingga tidak ada kebanggaan sebagai bangsa.


Potret bangsa Indonesia di mata masyarakat internasional hanyalah TKI/TKW sehingga kebanggaan itu menjadi luntur di tengah kehidupan global. Hal itu sangat terkait dengan berbagai dimensi kehidupan baik sebagai anggota masyarakat, maupun sebagai komponen bangsa Indonesia. Kualitas sumberdaya manusia Indonesia yang sangat tertinggal.


Tinggal bahasa


Soeparmo mengemukakan, bahasa Indonesia menjadi kekayaan satu-satunya bangsa Indonesia hari ini. Hampir semua kekayaan milik bersama warga bangsa sudah hancur. Kalau kebanggaan sebagai bangsa yang memiliki bahasa Indonesia tidak ada lagi, sudah habis seluruhnya.


Semua unsur kebudayaan lanjutnya, sudah hancur sehingga mempertahankan kelangsungan bahasa Indonesia yang menjadi warisan para pendahulu menjadi tanggung jawab bersama. Kalau usaha mempertahankan bahasa Indonesia juga gagal maka habislah seluruh kekayaan bangsa Indonesia dari peradaban bangsa-bangsa dalam percaturan global.


Kesenian sebagai unsur kebudayaan yang pokok lanjutnya, menghadapi kondisi sulit. Kesenian tradisional yang menjadi wujud jatidiri bangsa Indonesia, juga kehilangan arah. Unsur kesenian tradisional yang meliputi tuntunan dan tontonan kehabisan energi, kehilangan unsur tuntunan sehingga yang tinggal hanya tontonan semata.


"Kethoprak humor yang lebih banyak peminat, selesai nonton langsung tidur tidak sempat mendiskusikan apalagi mengambil pelajaran," kata Soeparmo sambil menjelaskan, pelawak lebih mendapat tempat meski lawakan tetap penting namun masih membutuh-kan keseriusan.


Seni tradisi yang menjadi ruh dari kebudayaan lanjutnya, menghadapi kesulitan paling besar. Di tengah kehidupan serba benda, seni tradisi bagai anak ayam mati di lumbung padi. Masyar-akat pendukungnya mulai meninggalkan seni tradisi yang menjadi jatidiri bangsanya.


Wayang Orang Bharata satu-satunya bentuk pementasan kesenian tradisional di ibukota menghadapi kesulitan untuk mempertahankan kehadirannya. Untuk dapat terus berkreasi saja membutuhkan per-juangan berat sehingga mempertahankan kelangsungannya juga memer-lukan dukungan banyak pihak.


Soeparmo menjelaskan keberadaan seni tradisi sangat penting bagi kelangsungan budaya. Sayangnya seni tradisi tidak mendapat tempat di tengah percaturan global. Kebudayaan dapat diwujudkan dengan kesenian sebagai nafas utama, kalau kesenian tidak memili-ki tempat sama halnya dengan tanda-tanda kehancuran budaya secara menyeluruh.


Budaya materialisme lanjutnya, menjadi kebanggaan hampir seluruh warga bangsa. Kebudayaan yang memiliki ruh yang bersifat kedalaman menjadi tersingkirkan. Akibatnya terjadi kekeringan ruhaniyah yang pada gilirannya akan mencari bentuk baru dari kejenuhan budaya kebendaan.


"Uang menjadi ukuran segala benda, termasuk untuk mengukur hakikat seseorang sehingga menjadikan kerusakan di mana-mana," paparnya sambil menjelaskan, manusia menjadi kehilangan jatidiri sebagai insan yang berbudaya. Pemandangan yang dapat disaksikan hanyalah kekerasan, pertikaian dan persaingan tidak sehat sehingga menjadi bagian dari kehidupan secara keseluruhan.


Para pemimpin, elit politik sampai lapisan masyarakat kebanyakan hari-hari ini gemar melakukan pertikaian. Sebagai akibatnya muncul berbagai bentuk kekerasan yang menjadi ciri masyarakat tidak berbudaya. Apalagi yang bisa diharapkan dari masyarakat yang tidak berbudaya. (djo)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel