Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Selasa, 24 Januari 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Perseteruan yang Terus Bergulir
[Budaya]





MUSYAWARAH seniman Jakarta (MSJ) yang berlangsung Taman Ismail Marzuki (TIM) mengundang berbagai tanggapan. Gugatan terhadap keberdaan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) mengemuka sehingga muncul dua kubu yang mengklaim sebagai dewan keseniannya seniman ibukota.


DKJ versi MSJ dan TIM menjadi wacana perdebatan, selain keabsahan juga keberadaannya yang terus mendatangkan seteru di antara masyarakat berkebudayaan. Tidak urung keberadaannya mendatangkan keprihatinan panjang baik dari para seniman maupun sesepuhnya.


Ali Sadikin yang selama ini menjadi sesepuh tidak urung harus 'turun gunung' sebagaimana Dramawan Rendra dan pendahulunya Ramadhan KH. Semua pihak menyatakan keprihatinan, betapa masyarakat yang seharusnya berkebudayaan justru menampilkan wajah-wajah tidak berbudaya.


TIM yang sejak lama menjadi sumber inspirasi para seniman, mulai memudar karena semakin banyak tempat lain sebagai ajang berkreatifitas. Pusat-pusat kebudayaan tumbuh dan berkembang seiring dengan dinamika di masyarakat. Hal yang sama terjadi ketika seniman mengekspresikan diri di berbagai


Dominasi TIM yang selama ini menjadi pusat berkreasi para seniman, digugat agar tidak mengarah kepada monopoli proses berkesenian. Betapapun proses berkesenian tidak dapat dipusatkan misalnya di Jakarta sebagai ibukota negara, apalagi sebatas kawasan TIM.


Proses berkesenian berlangsung sepanjang zaman, di segala tempat dan semua orang. Proses berlangsung seiring dengan dinamika yang terus bergerak bersama setiap perubahan, termasuk para seniman.


Iklim desentralisasi yang bergulir di masyarakat, menjadi bagian dari keinginan masyarakat seniman. Para intelektual yang berproses dengan diri dan lingkungannya, meski mereka hadir lebih awal dengan berbagai kritik, namun mereka yang ditinggalkan dalam berbagai percaturan dunia. Untuk itu mereka dituntut terus mengkritisi setiap perkembangan yang terjadi di dunianya.


Musyawarah seniman yang berlangsung dihajatkan untuk merespon setiap perkembangan di sekelilingnya, agar seniman tidak tertinggal dari gerbong kehidupan di masyarakat. Seniman betapapun memiliki dunianya sendiri, namun tidak dapat tinggal di menara yang tinggi.


Para seniman yang terlibat dalam musyawarah, terutama para penggagasnya, melihat TIM sebagai sebuah kawasan yang tidak bertuan. Proses berkesenimanannya berlangsung begitu saja, tidak menyaksikan dunia yang besar dan luas dengan mencakup berbagai perkembangan.


TIM dengan kelembagaan yang berada di sekelilingnya menjadi tidak bersinerji, masing-masing bergerak dengan dinamika yang diyakini. Sebagai akibatnya dinamika yang berkembang menjadi tidak satu, bercerai berai sehingga keluar dari dinamika yang diinginkan sebelumnya.


Padahal TIM lengkap dengan Dewan Kesenian Jakarta, Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta, Institut Kesenian Jakarta dan kelembagaan lain yang berada di sekitaranya, diharapkan memiliki kesamaan dalam usaha membangun masyarakat ibukota yang berkesenian.


Betapapun kecil masyarakat seniman yang berada di ibukota harus ikut memberikan andil bagi terbentuknya kebudayaan bagi penduduk. Selain kebutuhan mengharuskan seniman melibatkan diri di dalamnya, tuntutan zaman tidak dapat dipungkiri sebagai bagian kesatuan yang utuh dari masyarakatnya.


Untuk itu sesepuh dan orang-orang yang memiliki kepedulian terhadap keberdaan TIM diharapkan ikut urun rembug guna memperbaiki keadaan yang kurang menguntungkan. Betapapun masyarakat berkebudayaan membutuhkan dinamika, seiring dengan iklim otonomi koridor kebudayaan harus tetap ada dan dipertahankan. (djo)



 


 


 




 


 


 


 


 


 


 


 


 




 


 




 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Tahi Lalat di Atas Alis Mata Kanan
Majid Pergi Sekolah Cerpen: Budi Mulyana
Puisi Slamet Rahardjo Rais
Kongres Kebudayaan Butuh Langkah Nyata