Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Minggu, 19 Februari 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Tahi Lalat di Atas Alis Mata Kanan
[Budaya]

Oleh Restoe Prawiranegoro Ibrahim



RANI menutup daun pintu kamarnya sekali, nyaris tak terdengar oleh keempat adik-adiknya dan sang ibu tercinta. Memang suasana seperti itu yang diharapkan olehnya, pergi dan pulang tak ada yang mengetahui kecuali hanya satu yang diketahui oleh mereka bahwa Rani tak pernah keluar masuk waktu malam.


Namun Rani terkejut ketika berada di depan pintu rumah telah berdiri sang ibu tercinta menunggu dan siap memberondongkan beberapa pertanyaan atas kepergiannya ini.


"Kemana kau malam ini, Ran?" sang ibu menatapnya penuh kecurigaan, ada cahaya kekhawatiran dari pandangan matanya meski nada suaranya dipaksa tertekan seperti seorangibu yang sedang marah. Rani menghela nafas dalam-dalam.


"Tak perlu kau jawab tapi kuminta jaga dirimu dalam bekerja malam ini. Ibu merasakan sesuatu akan terjadi malam ini mengenai kita semua. Berangkatlah, doaku menyertaimu," kata sang ibu sambil melangkah akan masuk rumah.


Rani mengambil jemari tangan kanan ibunya kemudian mencium dan mendekapnya lalu ia memeluk sang ibu dengan derai air mata dan berbisik.


"Mengapa nasibku seperti ini, bu?"


"Jangan berkata begitu, Rani. Bersabarlah dan terima saja dengan tulus ikhlas suatu hari Tuhan akan mengentaskan kita dari kenistaan ini. Di motel mana malamini kamu bekerja?"


"Kamar tujuh tiga, di hotel berbintang lima, jam sembilan di sana aku sudah ditunggu seseorang. Ibu aku berangkat."


"Jaga diri baik-baik!" Rani melepas ibunya masuk ke rumah, ia menyeka air mata dan berusaha tersenyum menatap dunia yang akan dihadapi kemudian hari.


Rani terkejut ketika di kamar hotel berbintang lima melihat lelaki yang menunggu kedatangannya dengan imbalan lima ratus ribu rupiah sekali terbang. Rani tetap menutup pintu lalu mengunci pelan-pelan ia melangkah sambil berusaha mengendalikan gejolak emosinya yang tiba-tiba meninggi.


"Apa saya terlambat?" tanya Rani berdesah.


"Oh, tidak, masih ada waktu kita ngobrol dan bertukar pengalaman tentang peperangan," balas lelaki itu.


"Rupanya suka berdiskusi jorok, ya."


"Sekadar pembukaan dan pembangkit selera saja."


Rani kini berdiri depan lelaki yang memesan tadi siang lewat telepon. Ia ingin memastikan dugaannya, lelaki di depan ini bapak kandungnya. Lelaki yang paling dibenci seumur hidupnya.


"Bapak suka tahi lalat ini?" tanya Rani sambil menunjuk tahi lalat di ujung alis mata kanannya. Ia bermaksud kalau lelaki itu bapaknya akan teringat anak perempuan yang pernah diperkosanya. Anak perempuan itu dirinya.


"Oh, ya. Sangat suka, tapi...." lelaki itu terdiam sejenak setelah meraba tahi lalat milik Rani.


"Apa bapak mulai tak menyukainya?" Rani sangat yakin lelaki yang akan membawa terbang, bapaknya. Ia makin mantap untuk melaksanakan tugas dendamnya di kedua pundaknya sejak lima belas tahun lalu.


Ketika ia baru sepuluh kali menstruasi, ketika ibunya melahirkan adiknya yang kelima, ketika rumahnya sepi tak ada orang selain dia dengan bapaknya, ketika bapaknya datang menghampiri dengan membawa sebuah pisau dapur, ketika pisau itu terpaksa ditempelkan di leher dia akan dibunuh bapaknya jika tak mau menuruti apa yang diperintahkan bapaknya.


Ketika dia bersedia patuh dengan melucuti pakaian di tubuhnya, kemudian pakaian bapaknya sehingga terjadilah perbuatan bejat yang dilakukan bapaknya terhadap Rani. Sejak itu dia marah, namun tiap kali bapaknya datang dan Tani tak bisa menolak.


Ketika es-em-pe kelas dua, semuanya dia ceritakan kepada sang ibu. Bulan berikutnya ibu dan bapak Rani bercerai. Rani sangat bergembira karena terlepas dari kerakusan birahi sang bapak.


Sayang, harapan bebas tidak lama, karena keperluan hidup keluarganya tak bisa dipenuhi terpaksa dia menjual apa yang dipunyai sampai menjual diri kepada om-om hidung belang.


Hatinya makin hancur dan dendam kepada bapaknya saat melihat ibu tercinta ternyata juga menjual diri.


"Kurasa, aku salah memilihmu hari ini," kata lelaki itu.


"Apa kau teringat dengan istri kelimamu, atau yang keempat, atau yang pertama, atau siapa yang paling kau ingat?"


"Tahi lalat di atas alias mata kanan itu."


"Ya, pasti milik Rani, masih ingat dengan Rani?"


"Ya, Rani anakku, perawan kecil yang penurut, baik, cantik dan....," lelaki itu diam sejenak. "Apa kau Rani."


"Benar, aku Rani anak perawanmu yang penurut dan seksi sehingga membuat kamu kalap tiap saat. Kini kalau mau mengulangi peristiwa tempo lalu? Kulayani kau dengan senang hati tanpa pisau dapur di sini," balas Rani sambil memotong lehernya dengan tangan kiri dan merebahkan tubuhnya ke kasur.


"Mulailah wahai bapakku yang rakus," kata Rani.


"Bagaimana keadaan ibumu, Ran. Adik-adikmu apa semua sehat? Apa sekolah mereka juga lancar dan kenapa kamu bisa masuk ke sini?"


"Sepertinya kau melupakan sesuatu, pak. Sepertinya kau tak peduli kenapa aku jadi begini. Apa bapak lupa atau berlagak lupa atau sudah tidak menyukai lagi kepada istrimu yang kelima," balas Rani.


"Rani."


"Panggilan seperti inilah untuk mengantarku mengenal seks. Kini kau tanya kenapa aku jadi begini, bapak macam apa kau ini, lelaki rakus birahi yang suka menelantarkan keluarganya sendiri mau menikmati tubuhku lagi, ayo lakukan sesukamu karena kau sudah mengeluarkan uang banyak untuk memanggilku ke tempat ini."


"Rani."


"Kau buang ibuku begitu saja seperti kau melantarkan kami semua. Lalu kau kawin lagi dan beranak lagi sampai lima kali kau perlakukan seperti itu semua istrimu. Dan mereka semua menangisi nasibnya karena ulahmu hei lelaki yang tak tahu diuntung," suara Rani meninggi tertekan amarah.


"Rani."


"Kau tahu derita yang dialami keluargamu semua?"


"Kuusahakan untuk mengetahuinya, Rani!"


"Tidak. Kau tak pernah lakukan, kau hanya bisa menyengsarakan saja. Baiklah, persoalan keluarga kita di rumah bukan untuk dibicarakan dalam bisnis yang kita lakukan sekarang."


Mari kita laksanakan tugas masing-masing. Kau tunjukkan uangmu dan berikan kepadaku, aku segera telentang, setuju. Atau kubatalkan bisnis ini."


"Rani, ini uangmu. Ambil dan pulanglah segera," kata bapaknya sambil meletakkan setumpuk lima puluh ribuan di depan Rani. Diambil dan dimasukkan ke dalam tas, dengan seulas senyum Rani melangkah keluar kamar.


"Berarti bisnis kita selesai, bapak," katanya sambil menutup daun pintu kamar tujuh tiga.


Rani tidak segera meninggalkan hotel berbintang itu, dia masih di sekitar kamar tujuh tiga, memikirkan sesuatu yang mengganjal di hatinya. Keputusan hatinya bulat, ditinggalkan hotel dengan memberi tip kepada petugas hotel lalu naik taksi. Tak jauh dari hotel, dia meminta diturunkan dan menyuruh sopir terus ke utara. Rani kembali ke hotel lewat pintu belakang.


Memanjat pagar dan memecah kaca jendela kamar, beberapa menit kemudian sudah di kamar tujuh tiga dan dia melihat wanita keluar dari kamar.


Senyum terpasang sinis, didatangi bapaknya yang tergeletak lemas di pembaringan mahal. Lalu didekati.


"Mau apa lagi, Ran?"


"Aku belum bekerja untukmu. Dan kangen kebuasanmu. Cepat tangkap aku, perkosa aku. Seperti pertama kali kau lakukan kepadaku. Ayo cepat," kini Rani berteriak.


Tangan kanannya terangkat sejajar pundak, pistol yang digenggam diremas berulang kali, senyum sinis masih tersungging.


"Bunuhlah aku kalau itu maumu, Ran!"


"Tangkap aku seperti dulu."


"Maafkan bapak, Rani."


"Jangan malu, jangan takut, ayo tangkap aku, perkosa aku atau kau kutembak. Ayo."


"Ingat, Ran. Aku bapakmu sendiri," Rani berdiri persis di depan bapaknya. Pistol menempel di kening.


Mata bapak itu membeliak dan berapi. Rani meremas kuat-kuat gagang pistolnya. Saat itu telunjuk Rani kuat menekan pelatuk pistol dalam genggamannya, doooorr...!


Bapaknya terjengkang seketika dan Rani tersenyum. Lalu pistol itu digenggamkan ke jemari bapaknya, dia cepat keluar lewat jalan masuk tadi, dan membuang kaus tangan karet ke sungai yang dilewatinya.


Jam sebelas malam Rani tidur di kamarnya sambil menyeka air matanya. Rani tidak terkejut saat ibunya menyodorkan koran pagi memberitakan pembunuhan di kamar tujuh tiga hotel berbintang lima. Aparat tidak memeriksa Rani yang ibunya pasti menduga ia pelakunya.


Joice pelacur terakhir yang meninggalkan kamar tujuh tiga sebelum lelaki itu bunuh diri. Keterangan Joice pula yang meyakinkan aparat polisi, teman kencannya memiliki pistol dalam koper. Ia mengetahuinya saat menerima pembayaran dan meninggalkan kamar. Polisi tidak mencurigai pecahnya kaca jendala kamar mandi. "Kau tahu dia adalah bapakmu, Ran?" tanya ibunya sambil membelai kening Rani yang menangis.


"Ya, dia harus menerima ganjarannya, karena dia aku jadi begini dan ibu jadi primadona wisma hijau serta empat ibu tiriku merana, menderita dan ternista. Hanya satu peluru cukup menghentikan perbuatan binatangnya selama-lamanya. Ibu, maafkan Rani, ya."


"Ya, ibu sudah merasakan sebelum itu terjadi. Kapan kamu diwisuda, Rani?"


"Besok, ajak semua saudaraku dan ibu-ibu tiriku. Setelah itu kita selamatkan rumah ini."


Ibunya tak kuasa menahan air matanya, dipeluk erat-erat putri kesayangannya, teman seperjuangannya, sahabat berkeluh kesah dan pahlawan keluarga.


"Setelah itu kita bertobat, Ran," bisiknya lembut.



 

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Majid Pergi Sekolah Cerpen: Budi Mulyana
Puisi Slamet Rahardjo Rais
Kongres Kebudayaan Butuh Langkah Nyata