Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Selasa, 24 Januari 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
SAJAK-SAJAK
[Budaya]





Puisi-puisi Ahmadun Yosi Herfanda



Doa Pembuka



hanya milikmu cahaya pagi hingga senja


dan rahasia kegelapan ketika malam tiba


pada muhammad kauanugerahkan kemuliaan


pada sulaiman kaulimpahkan keberadaan


kau tunjukkan keindahanmu melalui yusuf


dan cinta kasihmu melalui isa


di hati kekasihmu sejati pun kautanam


rahasia kemakrifatan



kaujadikan perut burung-burung


kenyang ketika petang


dan lapar kembali ketika pagi


hingga terdengar selalu kicaunya


menghiasi kelompok hari yang terjaga



kaujadikan bintang-bintang


selalu bertasbih padamu


kauciptakan pohon-pohonan


selalu berzikir padamu


o, allah, anugerahi aku kesetiaan


tanganku menjadi tanganmu


kakiku menjadi kakimu


lidahku menjadi lidahmu


mataku menjadi matamu


telingaku menjadi telingamu


hatiku menjadi istanamu


:bumi dan langit tak mengandungku


tapi hamba berimanku mengandungku*



*dari Hadis Qudsi


1989



 


Sajak Urat Leher



karena cinta tuhan meletakkan


dua malaikat di pundakmu


-inilah pengasuh-pengasuhmu


kata tuhan. sayap-sayapnya


bisa membawamu terbang ke langit


sekaligus berpijak di bumi lagi



engkau tak perlu takut


malaikat bukan polisi atau satpam


bersih dari amplop dan uang sogok


tak suka dijilat maupun menjilat


malaikat bersih dari nafsu-nafsu burukmu


karena cinta tuhan meletakkan


dua malaikat di pundakmu


karena cinta tuhan lebih dekat


dari urat lehermu



1990



Zikir Seekor cacing



dalam duniamu aku cacing tak bermakna


yang melata dari lumpur ke lumpur


peradaban tanpa jiwa, yang menggeliat


di selokan-selokan kumuh kota, yang


bahagia ketika pohon-pohon berbunga



cobalah kaudengar zikirku, menetes


jadi madu di pucuk-pucuk akar pohon itu


kucangkul tanah keras jadi gembur


kurabuk ladang tanpa hara jadi subur


kubimbing akar-akar pohonan


menyusup sela-sela batu dan belukar


menghisap sari madu kehidupan


sedang aku cukup tumbuh


dari daun-daun gugur



di kota-kota padat beton dan baja


aku jadi penghuni tak berharga


tapi dengarlah kecipak ikan-ikan


bernyanyi atas kehadiranku


ketika tubuhku kurelakan


lumat jadi santapan



akulah si paling buruk rupa


diantara para kekasih dunia


namun syukurku tak tertahankan


ketika dapat ikut menyuburkan


taman bunga di beranda



1990



Sungai Iman



sungai itu panjang sekali


mengalir ke dalam tubuhmu


dengan penuh cinta aku pun berlayar


bersenandung dalam konser ikan-ikan



sungai itu dalam sekali


berpusar dalam palung jiwamu


dengan penuh gairah aku pun menyelam


menangkap makna hidup pada mata kerang



sungai itu panjang sekali


di arusnya aku memburumu


tak sampai-sampai



1990



Zikir Semut



semut-semut pun kauanugerahi


sepercik cahaya pagi


hatinya yang kaucintai


terang dalam kegelapan hari



ketika cahaya langit mekar


berjuta semut berzikir


berderet di akar pohon


bagai beribu sufi


menyanyikan shalawat nabi



karena kauanugerahi kekuatan


semut-semut dengan ringan


memanjat ranting dan daun


meletakkan cintaku


di putik bunga



dan sang embun pun berkata:


barangsiapa tak kauanugerahi cahaya


akan tersuruk-suruk langkahnya


bagai semut kehilangan kepala



1990

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Parikesit Menangis di Tengah Gonjang Ganjing
Tim Kesenian Bali Akan Pentas di Jepang
Adzab
Cerpen Versus Puisi
CERPEN