Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Selasa, 24 Januari 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Parikesit Menangis di Tengah Gonjang Ganjing
[Budaya]





SUNGGUH sangat jenius, disaat bangsa Indonesia, tengah dilanda berbagai persoalan yang cukup pelik, kalangan teater pun berusaha mengangkat sebuah cerita yang tidak seperti biasanya. Melalui imajinasi yang hebat, Teater Tetas dan dengan sutradara Ags Arya Dipayana, kembali mengangkat sebuah cerita wayang pasca Bharatayuda "Seorang Anak Menangis" di Gedung GKJ Jakarta.


Pentas yang didominasi dengan gerak ini juga dilengkapi dengan dialog atau kata-kata sebagai penguat cerita dan memudahkan penonton menagkap cerita yang disajikan. Apalagi, tokoh-tokoh didalamnya diperankan Putri Djajusman, Wulan Guritno, Eddi La Rose, dan sejumlah pemain teater yang cukup potensial. Sehingga apa yang disajikan cukup menggugah hati penonton.


Berawal dengan kesedihan anak-anak bangsa yang disebabkan adanya berebut mainan, adanya pertengkaran antarsesama hingga perampasan hak-hak orang dewasa, lahirlah sosok bayi, Parikesit. Beberapa tahun kemudian putra raja yang belum dewasa ini didaulat untuk menjadi pemimpin negaranya.


Alhasil, Parikesit pun menangis, melihat berbagai persoalan hukum di negaranya tidak pernah tuntas, jumlah pengangguran semakin banyak dan jumlah orang miskin semakin meledak. Tidak hanya itu saja, para pejabat kerajaan banyak melakukan hal-hal yang tidak terpuji. Segala carut marutnya tata nilai yang ditinggalkan oleh generasi sebelumnya tidak pernah dapat dituntaskan.


Anak yang belum sempat mengenal dengan baik kehidupan itu harus menanggung beban dan krisis yang menimpa negerinya. Iapun menangis. Akan tetapi siapa yang peduli kepada seorang anak yang menangis? Lebih-lebih di seluruh negeri begitu banyak anak yang menangis dengan alasan yang berbeda-beda. Sampai hari ini mereka terus masih menangis, dengan atau tanpa suara. Itulah sekelumit penampilan Teater Tetas dalam menangkap peristiwa-peristiwa yang menarik perhatian masyarakat. Pagelaran ini pun akan ditampilkan lagi di GKJ, 16-17 September 2002.


Gonjang ganjing


Hampir senada dengan pagelaran itu, GKJ juga menampilkan berbagai persoalan sosial yang dilakonkan Tater S Mas berlabel judul "Gonjang Ganjing". Pergelaran ini merupakan reperesentasi situasi sosial, dituangkan secara simbolik dalam bentuk teater modern, dibalut humor tajam berlandaskan keragaman khasanah kesenian tradisional Indonesia.


Setting pertunjukan memakai ruang hidup di suatu tempat di suatu masa, agar teaternya tidak menjadi sketsa verbal terhadap situasi sosial masa kini. Pertunjukan digelar selama dua malam dengan melibatkan 30 orang pemain teater, musik, seni rupa dan tari yang profesional dibidangnya


Karya Azuzan JG, yang merangkap sebagai Sutradara Teater S Mas, cukup pintar menyikapi situasi dan kondisi Bangsa Indonesia sekarang ini. bermula dari cerita pemimpin ritual makam keramat, Nyi Sekarputri, terlambat lagi menangkap makna wangsit.


Isyarat alam yang bermunculan tak bisa diantisipasi olehnya sehingga bencana demi bencana secara beruntun terjadi di desa Bakulaga yang dipimpinnya. Dibaratkan pepatah matio satu tumbuh seribu. Itulah persoalan yang ada di desa itu. Baru saja bencana yang satu hilang, bencana baru datang tak terelakkan.


Kondisi ini, ternyata dimanfaatkan oleh penasehat desa, Ki Datuk, melalui intrik-intrik politik. Penasehat ritual itu mengaku sudah lama menangkap adanya gelagat-gelagat tidak beres namun tidak pernah memberikan nasehat sehingga pemimpin wilayah terlambat dalam melakukan antisipasi.


Dalam waktu singkat situasi dan kondisi Desa Bakulaga, malah semakin kisruh. Hingga memunculkan orang-orang pelarian yang dipimpin Jenderal Pelari. Akibat keterpurukan ini, Makam Keramat ambruk dan Nyi Sekar tidak punya apa-apa lagi. Yang tersisa hanyalah hati nurani.


Semua itu mengajarkan kepada kita bahwa segala sesuatu kembali kepada nurani masing-masing. Teater modern yang dibalut humor tajam cukup mengesankan penonton karena penonton tidak hanya dijejali suguhan yang menjemukan.Apalagi, penata musik Jalu GP dan penata tari Leni, mampu memberikan alunan dan gerak yang sesuai dengan lakon yang dipentaskan. (otto sutoto)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Tim Kesenian Bali Akan Pentas di Jepang
Adzab
Cerpen Versus Puisi
CERPEN
Parikesit Menangis di Tengah Gonjang Ganjing