Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Minggu, 26 Maret 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Adzab
[Budaya]





Oleh: Priyono Joko S



Tono duduk dikursi emper rumahnya. Tangannya memegang rokok yang tinggal sedikit lagi. Kaki kanannya diletakan di paha kirinya. Kepalanya menghadap keatas menerawang kesana-sini. Tiba-tiba matanya melihat seberkas sinar yang menembus genting tepat di atas kepalanya.


"Oh, di sini rupanya yang bocor, pantas lantai ini basah semua," keluhnya. Memang tadi baru saja terjadi hujan, rumah Tono yang sudah tua itu tak kuasa menahannya, sehingga di mana-mana terjadi kebocoran.


Wajar saja karena rumah itu dibangun sejak zaman penjajahan Jepang belum ada yang diganti. Gentingnya masih asli sehingga tampak hitam kehijau-hijauan berselimutkan lumut. Sementara reng yang terbuat dari kayu kelapa itu tampak tak kuasa menahan genting yang menindihnya. Banyak yang patah.


Untung masih ada usuk yang terbuat dari kayu jati yang masih tegar menahan beban di atasnya. Sementara itu tembok banyak yang pecah membuat peta anak sungai yang bercabang-cabang kemana-mana dan bila terjadi hujan airnya merembes ke pecahan tembok itu bagai grojokan sewu. Perabot-perabotnya masih banyak yang asli peninggalan zaman Jepang.


Rumah itu peninggalan kakek yang bekerja pada kolonial Jepang. Kakek memepunyai dua orang istri dan tiga orang anak. Dua orang dari istri pertamanya, dan seorang dari istri keduanya yaitu ayah Tono, rumah itu akhirnya diwariskan pada anak istri mudanya.


Kembali ke rumah Tono langsung mengambil kain dan mengepel lantai yang sudah banyak genangan air sehingga mirip danau itu sampai bersih


Tono kemudian duduk lagi di kursi itu.


"Andai saja, warisan ibu tidak ditabung bapak, pasti rumah ini diperbaiki " keluh Tono.


Bulan lalu nenek tono memberikan warisan kepada ibu berupa sebidang sawah dan langsung di jual seharga Rp30 juta. Uang itu akan digunakan untuk memperbaiki rumah. Bapak Tono melarang uang itu di tabung saja agar dapat hadiah dan bunga.


Bapak memang terkenal agak pelit dan perhitungan sekali dalam pemasukan dan pengeluaran uang keluarga. Ia terobsesi dan ingin menguasai perekonomian di daerahnya, ia sudah memiliki tabungan Rp50 juta rupiah tapi ia tidak ingin memperbaiki rumahnya yang sudah reot.


Sementara itu hujan datang lagi dengan tiba-tiba dan ikuti angin yang amat kencang. Rumah Tono yang sudah rapuh mulai bergoyang. Tono yang sedang duduk di kursi emper rumahnya, kepala seperti dihujani pukulan yang bertubi-tubi. Ia kaget dan sadar yang menghujani kepalanya genting atap rumah, genting yang bocor sebesar lubang semut itu tak kuasa menahan derasnya air.


Tono langsung masuk ruang tamu dan dalam jantung yang masih berdebar Tono di kagetkan langkah kaki yang menghampiri. Terlihat sosok setengah baya tinggi, berkulit hitam dan agak keriput.


"Ada apa Ton" tanya orang itu yang ternyata bapaknya.


"Genting pecah" jawabnya.


Mendengar jawaban itu, bapaknya langsung mendekatkan langkah menuju emper rumahnya dan untuk melihat benda yang mengeluarkan bunyi tadi.


Melihat pecahan genting yang berserakan di lantai itu, badanya langsung gemetar, mulutnya tak bisa digerakan dan seluruh tubuhnya keluar keringat dingin bagai es yang mencair dalam gelas.


Kejadian itu mengingatkan masa lalunya yang dialaminya. Ketika bapak di SMU hendak berangkat sekolah. Ketika berada di depan pintu rumahnya, sebuah genting jatuh tepat di depannya. Langsung membersihkan genting itu, tetapi alangkah terkejutnya, tiba-tiba punggungnya seperti ada yang menepuknya, maka ia memalingkan mukanya dan dilihatnya orang setengah baya, berbadan kekar tambun, berkulit hitam, berambut ikal dan berkumis.


"O pak Karto," ada apa pak, seru Tono dan langsung menanyainya. Pak Karto terdiam dan ia pun langsung mengajak bapak duduk di kursi disampingnya.


"Begini, Ton, tadi ketika aku jalan di pasar, aku lihat seorang perempuan membawa tenggok ditabrak sepeda motor, setelah saya lihat ternyata ibumu dan meninggal di tempat" terang pak Karto pada bapak Tono.


Mendengar kabar pak Karto itu, ia pun tersentak, tak terasa air matanya keluar dengan deras bagai air terjun yang mengalir tiada hentinya, mulutnya tak bisa bicarta hanya membuka dan menutup bagai pintu liff di mall malioboro. Sementara badannya kaku seperti patung pembebasan Irian Jaya di Lapangan Banteng Jakarta.


Kembali ke Bapak Tono, ia langsung teringat akan istrinya.


"Ton, ibumu sudah pulang" tanya bapak.


"Belum" jawabnya.


Ia pun semakin gelisah.


Memang ibu tiap hari, sejak pagi-pagi sekali sudah berangkat ke pasar untuk berdagang. Jarak antara rumah dan pasar kira-kira lima kilometer. Padahal belum ada angkutan karena di pegunungan terpencil. Sesudah adzan subuh dan sholat, ia langsung ke pasar.


Sementara di luar, Hujan makin lama makin deras, genteng-genteng rumah Tono seakan-seakan ada yang melempari, suara membuat bising di telinga, beberapa saat kemudian terdengar suara aneh di atap kemudian air mengalir dengan deras dan mebasahi lantai sehingga beberapa saat kemudian lantai seperti lautan.


Tono pun langsung mengambil ember dan memasangnya di lantai yang tergenang. Tak berapa lama kemudian ia pun di kagetkan kekuatam pijaran api yang seakan-akan membakar rumahnya dan ikuti dengan suara gemuruh berkejaran, mebuat miris hati manusia. Sementara itu, pepohonan menari-nari dan seakan ingin jatuh menimpa rumah yang sudah rapuh. Pintu-pintu rumah membuka sendiri dan menabrak dinding sehingga mengeluarkan bunyi yang amat keras akan meruntuhkan rumah Tono.


Pelataran rumahpun sekarang sudah bayak genangan air, makin lama makin banyak, sehingga rumah Tono sekarang sudah dikelilingi genangan air. Mirip kapal yang berlayar mengelilingi samudra. Air pun menghanyutkan sampah, kayu. Sementara itu suara kentongan bersahutan, menandakan siaga satu bagi warga.


"Wah, apa tanggulnya gebol lagi," batin Tono


Memang setahun yang lalu, tanggul sungai yang kira-kira 100 meter itu jebol. Tanggul itu sudah tak kuat lagi menahan derasnya air sungai karena bibir tanggul yang sudah amat tipis setipis benteng kerajaan sehingga hanya cukup untuk berjalan lorong dan mirip jalan setapak. Sementara itu tanggul sudah amat curam, sehingga mirip dengan arena panjat tebing.


Tiap minggu sore banyak orang berdatangan untuk wisata panjat tebing di tanggul dengan gratis, berbeda dengan saat orang-orang latihan di arena panjat tebing sungguhan orang-orang harus merogoh kantong. Di sini orang-orang hanya cukup membawa peralatan seperti tali dan pematok.


Tanggul ini menjadi curam karena penduduk sekitar menanam rumput kolojono dengan sembarang. Rumput itu dipupuk dengan pupuk buatan sehingga tanah ini menjadi terkikis. Mereka sebetulnya sudah diperingatkan pemerintah desa setempat. Tetapi karena dengan alasan penduduknya banyak yang prasejahtera yang bekerja sebagai petani, maka pemerintah setempat tak bisa berbuat banyak.


Kecuraman tanggul ini semakin menjadi, karena penduduknya mengambil pasir dari sungai itu. Hampir tiap hari ada saja orang yang mengambil pasir dari sungai. Ada dengan alasan untuk membangunrumah, atau untuk dijual agar bisa mencukupi kehidupan keluarganya.


Anak-anak kecil tidak sekolah yang menggantungkan hidupnya dengan menjual pasir. Daerah ini memang kerusakan alamnya sudah sangat parah. Selain hal di atas, setiap musim kemarau hampir satu satu bulan sekali, warganya mencari ikan dengan racun, tiodan, apotas dan lain-lain. Padahal sungai itu dulunya amat terkenal karena banyak ikannya terutama gurami, sehingga sungai ini dulu dikenal dengan sungai gurami.


Di sungai ini warga juga menggunakan sebagai aktifitas sehari-hari, misal memcuci pakaian, mandi bahkan untuk buang air besar. Tak sedikit warga membuang sampah di sungai sehingga bila airnya surut bau busuk amat menyengat hidung warga sekitar.


Sementara itu banjir sudah memasuki rumah Tono. Ia bersama bapaknya segera mengamankan barang-barang berharga ketempat yang lebih tinggi, macam TV, radio, Kasur, dan sebagainya. Tetapi air makin lama makin tinggi, dalam rumah air sudah mencapai perut, mirip kapal Tetanic. Hampir perkakas rumahnya terendam air. Hanya TV, Tape, kasur yang diletakkan di atas lemari. Sepatu-sepatu mengapung bagai sampan-sampan kecil yang hendak berlayar tanpa arah dan tujuan, ember-ember ingin keluar, tampak sudah ogah dengan tuannya, gelas-gelas dalam lemari tampak saling bertabrakan karena tergoyang-goyang air dan menimbulkan suara yang bising mirip orang berperang dengan pedang.


"Wah, Ton kita harus keluar" spontan suara bapaknya melihat air yang semakin meninggi itu.


"Lalu barangnya, bagaimana pak" tanya Tono


"Tinggalkan saja" lanjutnya.


Tono dan bapaknya segera keluar dari rumah. Ketika membuka pintu, dilihatnya orang-orang di luar meninggalkan rumahnya. Keduanya langsung bergabung dengan orang-orang di luar. Ternyata air sudah sampai dada mereka. Derasnya air itu membuat mereka sesak nafas. Di belakang mereka seperti ada yang mendorong-dorong.


Ketika mereka sampai dijalan raya, yang kira-kira 100 meter, terdengar suara gemuruh. Tono pun langsung memalingkan badan untuk lebih mendekatkan kupingnya ke suara itu, alangkah kagetnya suara itu berasal dari rumahnya dan sesaat itu juga runtuh bagai gedung WTC yang ditabrak pesawat dan rumah pun sudah tak berwujud. Hanya terlihat gundukan, mirip batu karang ditengah laut yang siap untuk berlabuh bagi orang-orang yang tersesat selama berlayar. Melihat kejadian itu matanya mengeluarkan air, yang tiada henti, seakan-akan ingin menambah banyaknya air yang meruntuhkan rumahnya itu, badannya lemas, kakinya bergetar bagai senar gitar yang baru saja dimainkan.


"Sudah Ton" seru bapaknya yang juga terlihat mengeluarkan air mata itu.


Bapaknya kemudia mengajak Tono ke tempat pengungsian yang letaknya 100 meter dari tempat kejadian. Camp pengungsian itu balai desa setempat. Di sana sudah banyak orang yang meratupi nasib ini. Tono dan bapaknya pun langsung bergabung dengan mereka.


Tono hanya terdiam, mendengar pentanyaan ayahnya air matanya pun kembali mengalir dengan deras, yang seakan-akan ingin membanjiri Camp ini yang belum tergenang air.


Tiba-tiba dari kejauhan tampak orang berlari menghampiri orang-orang yang ada di Camp ini. Orang itu nampak basah kuyup, nafasnya tersenggal-senggal.


"Maaf,.. Bapak-Bapak, bila ada keluarganya yang pergi ke pasar hendaknya kesana, karena disana terjadi tanah longsor, korban meninggal yang sudah ditemukan baru lima orang dan yang selamat dua orang" terang orang itu dengan nada tersendat-sendat.


Mendengar keterangan orang itu, Tono dan bapaknya langsung berpelukan dan menangis. Perasaan iba, jantungnya berdebar-debar tangan dan kakinya gemetar bibirnya nampak biru seperti baru saja di beri lipstik.



 

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Cerpen Versus Puisi
CERPEN
Parikesit Menangis di Tengah Gonjang Ganjing
SAJAK-SAJAK
SAJAK-SAJAK