Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Rabu, 29 Maret 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Surat "Wasiat"
[Parlementaria]





SAHABAT saya, orang Amerika, Kevin Albright, berkunjung ke Indonesia belum lama ini. Sebelum berangkat dia menuliskan sebuah "wasiat" kepada anaknya. "Nak," tulis Kevin, "Kalau saya tidak kembali (mati) di Indonesia, kamu jangan sedih. Nanti kita pasti akan bertemu di sorga..."


Tentu saja, "wasiat" itu terungkap setelah Kevin kembali dari Indonesia, dan tidak mati seperti yang dikhawatirkannya semula. Ketika dia mengisahkan perihal "wasiat" itu lewat email, spontan saya tertawa. Bisa saja, pikir saya. Tapi, entah kenapa setelah tawa itu, kembali sayalah yang menjadi sedih. Sedih dan mengurut dada.


Sebegitu jahatkah Indonesia di mata orang-orang Amerika? Sebegitu burukkah Indonesia sehingga setiap mendengar kata Indonesia saja orang-orang sudah gemetar; membayangkan sebuah negeri yang barbar, negeri para teroris, yang tak punya tata-krama, yang tak punya naluri kemanusiaan, yang korup, yang dirampoki kalau berjalan di keramaian, yang bebas memperkosa di jalanan... pokoknya segala sesuatu yang ruwet seperti benang kusut, sekusut ketakutan seorang sahabat bernama Kevin yang harus berjuang melawan dirinya sendiri untuk datang ke Indonesia.


Sebagai orang Indonesia, saya sedih dan tersinggung juga. Tapi saya tak malu.


Bertepatan dengan peringatan 11 September, Kedubes AS di Jakarta dan Konjen AS di Surabaya ditutup. Alasannya adalah masalah keamanan. Washington khawatir kalau-kalau kelompok teroris menyerang kedua tempat itu sebagai tindakan lanjutan 11 September 2001. Sayang sekali, kekhawatiran itu tak terbukti. Cuma ada segelintir orang yang demo. Tidak ada bom, tidak ada tembakan senapan mesin atau senjata pemusnah. Semua orang di Kedubes maupun Konjen bisa makan dan tidur dengan nyaman.


Beberapa hari lalu, Kedubes AS di Jakarta bikin 'ulah' lagi. Jalanan diberi pembatas berupa tembok. Tentu saja maksudnya untuk mengurangi pergerakan orang per orang yang melintas di depan Kedubes. Sebelum-sebelumnya kita dituduh tak demokratis, kita pelanggar HAM terburuk, kita tempat segala penjahat. Apa komentar orang-orang kita? Diam saja. Paling ada 'dumelan', tapi beraninya cuma di belakang. Di telepon Bush, selesai. "Yes, Sir!"


Setuju atau tidak, dua kejadian terakhir ini justru mempermalukan kita. Dua-duanya, bagaimanapun kita memandang, hanya untuk mengesankan kepada dunia, termasuk warga mereka seperti sahabat saja Kevin tadi, bahwa Indonesia memang tidak aman. Tapi, lagi-lagi setuju atau tidak, dua kejadian itu hanyalah segelintir dari ratusan aksi AS (pemerintah AS, bukan rakyat AS), untuk membuat Indonesia tak berdaya. Tujuan mereka memang hanya sampai di situ, membuat lemah, membuat kekacauan sehingga kita tetap menjadi subordinat AS. Saya kira tidak sampai seperti ketakutan banyak pihak bahwa mereka ingin Indonesia pecah belah menjadi puluhan negara merdeka. Tanya saja Ralph Boyce, Richard Gozney, Richard Smith, ... koor mereka pasti: "mendukung NKRI". Lha iya, masakan mereka mau kehilangan pasar 230 juta penduduk? Masakan mereka mau ber-KKN dengan puluhan negara daripada satu negara yang dapat mengkover puluhan negara?


Inilah yang kita sebut sebagai pengrusakan karakter bangsa.


Termasuk desas-desus dari CIA yang katanya punya bukti bahwa jaringan Al-Qaeda berencana membunuh Presiden Mega. Dua kali malah. Lha, Bush yang dikejar kok malah dibalik ke Mega? Enak saja. Supaya dapat lampu hijau untuk masuk ke Indonesia? Supaya orang Indonesia ketar-ketir? Ini juga namanya pemerkosaan.


Selasa (17/9) Presiden Megawati yang baru saja kembali dari lawatan ke luar negeri, marah-marah. Dia marah kepada orang-orang Indonesia yang katanya suka mempermalukan Indonesia di dunia internasional. "Kalau tak mau tinggal di Indonesia ya keluar saja.." tegasnya.


Ada benarnya Kepala Negara. Orang Indonesia yang suka korupsi, yang suka langgar HAM, yang suka malas, plus orang yang suka "ngerumpi' di luar negeri untuk berharap bantuan kepada LSMnya, parpolnya, atau organisasi lainnya, mereka itu memang lebih pantas jangan jadi warga Indonesia. Tapi ada kelirunya juga. Ibu Presiden sama sekali menutup mata bahwa penghancuran karakter bangsa itu justru dilakukan oleh pemerintah negara-negara besar seperti AS, Inggris, Australia dan sekutu lainnya. Mengapa tidak berani kepada mereka Bu? (jones sirait)



 






 

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
Pengakuan Seorang Al-Qaida Omar al-Faruq (Versi CIA)
RUU Penyiaran Nasibmu Kini ...
911, The Big Lie" , Faksi di Militer AS Otak Serangan 11 September?
Masyarakat NTB Protes PAW Hatta Taliwang
Distrik atau Proporsional Tak Soal, Yang Penting Akuntabilitas