Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan  | Arsip  Edisi Rabu, 29 Maret 2017  
Politik dan Keamanan
Ekonomi dan Keuangan
Metropolitan
Opini
Agama dan Pendidikan
Nusantara
Olah Raga
Luar Negeri
Assalamu'alaikum
Derap TNI-POLRI
Hallo Bogor
 
   
 
Login
 
      
 
Password
 
 
 
   
Dunia Tasawuf
Forum Berbangsa dan Bernegara
Swadaya Mandiri
Forum Mahasiswa
Lingkaran Hidup
Pemahaman Keagamaan
Otonomi Daerah
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria
Budaya
Kesehatan
Pariwisata
Hiburan
Pelita Hati
..
..
NILAI TUKAR RUPIAH
Source : www.klikbca.com
 JualBeli
USD 9200.00  9100.00  
SGD 6325.65  6236.65  
HKD 1187.90  1173.10  
CHF 7874.45  7769.45  
GBP 18868.05  18609.05  
AUD 8331.10  8203.10  
JPY 80.82  79.36  
SEK 1437.75  1407.65  
DKK 1776.20  1737.00  
CAD 9530.55  9376.55  
EUR 13145.74  12975.74  
SAR 2466.00  2426.00  
25-Okt-2007 / 15:41 WIB
 
 
 
Pengakuan Seorang Al-Qaida Omar al-Faruq (Versi CIA)
[Parlementaria]






BAGI seseorang yang tertarik untuk menjalani kehidupan ala teroris, mungkin daerah Cijeruk di Indonesia merupakan tempat yang nyaman untuk menetap.


Menghirup alam yang masih sejuk dengan tanaman padi, pohon pisang serta lokasi yang hanya membutuhkan waktu satu jam dari Jakarta, Cijeruk merupakan daerah tenang dengan dua jalur jalan.


Tempat itulah yang menurut Majalah Time edisi, Senin (16/7) lalu menjadi sarang persembunyian Omar al-Faruq, yang berusia 31 tahun.


Faruq tinggal di rumah yang merupakan milik keluarga istrinya, Mira Agustina, 24 tahun yang berkewarganegaraan Indonesia.


Setelah pindah ke Cijeruk tahun lalu, Al-Faruq mencoba untuk beradaptasi dengan penduduk setempat, mempelajari bahasa Indonesia serta memiliki kartu identitas yang menyebutkan dia berasal dari Indonesia Timur, Ambon.


Istrinya mengatakan bahwa dia membaca dan mengajarkan Al- Quran serta terus tinggal di rumah, hingga suatu hari di bulan Juni ketika dia menghilang.


"Dia menelepon hari Rabu siang itu bahwa dia akan pergi ke Masjid, setelah itu saya tak pernah mendengar kabarnya lagi," kata Mira.


5 Juni lalu, kepolisian Indonesia menangkap al-Faruq di sebuah masjid dekat Bogor. Tiga hari setelahnya, pihak berwenang Indonesia mendeportasinya ke pangkalan udara AS di Bagram, Afghanistan, tempat pihak CIA menginterogasi para tersangka Al Qaida.


Namun seperti yang dilaporkan Time, Faruq tidak sekedar menjalani operasi biasa. Menurut sebuah dokumen rahasia CIA dan laporan intelijen, pejabat AS memiliki alasan untuk yakin bahwa Faruq merupakan salah satu wakil penting Al Qaida di Asia Tenggara dan bertanggung jawab dalam koodinasi dengan kelompok Islam di wilayah Asia tenggara.


Menurut catatan salah satu agen intelijen di Asia tenggara, CIA telah diberitahu peranan Faruq oleh Abu Zubaydah, pejabat tertinggi Al-Qaida yang berada dalam tahanan AS.


Walaupun al Faruq merupakan subyek dari taktik interogasi psikologis selama tiga bulan, pejabat kontraterorisme AS mengatakan al-Faruq tetaplah tak bergeming walau isolasi juga diberlakukan disana.


Namun awal minggu lalu, al-Faruq akhirnya membuka mulut, demikian menurut Time. Tanggal 9 September menurut ringkasan dokumen rahasia CIA, al-Faruq mengakui bahwa dia kenyataannya merupakan perwakilan senior Al Qaida di Asia Tenggara.


Bahkan seperti yang diberitakan Time ada pengakuan yang lebih mengejutkan lagi, menurut dokumen CIA, al-Faruq mengatakan bahwa dua pejabat senior Al Qaida, Abu Zubaydah dan Ibn al-Shaykh al-Libi telah memerintahkannya untuk merencanakan serangan skala besar terhadap kepentingan AS di Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, Taiwan, Vietnam dan Kamboja.


Secara khusus, dokumen itu berlanjut bahwa al-Faruq mempersiapkan rencana untuk menjalankan serangan bom mobil secara simultan terhadap Kedubes AS di wilayah Asia tenggara yang akan dijalankan sekitar tanggal 11 September atau bertepatan dengan tanggal tersebut.


Al Faruq mengatakan bahwa tanpa menghiraukan penangkapannya, operasi itu tengah berlangsung di suatu tempat dan akan terus melaksanakan operasi seperti yang direncanakan.


Jika serangan itu benar-benar berlangsung maka hal itu akan mengakibatkan ribuan koran jiwa. Khawatir serangan tersebut terjadi sewaktu-waktu, para pihak penginterogasi al-Faruq memberikan temuannya ke pusat kontraterorisme di Langley, Virginia, AS.


Cerita mengenai al-Faruq itu ditutup-tutupi hingga munculnya beberapa laporan intelijen dari Asia Tenggara mengenai meningkatnya aktivitas mencurigakan dekat Kedubes AS.


Sehari sesudahnya AS mengumumkan peringatan teror "code orange" dan hingga kini ancaman serangan al-Faruq itu tidak pernah terbukti.(time magazine/cr)

 
Baca Komentar Beri Komentar
Kirimkan Artikel Cetak Artikel
 
 
RUU Penyiaran Nasibmu Kini ...
911, The Big Lie" , Faksi di Militer AS Otak Serangan 11 September?
Masyarakat NTB Protes PAW Hatta Taliwang
Distrik atau Proporsional Tak Soal, Yang Penting Akuntabilitas
Sidang Akbar, Komentar Pakar Hingga Masyarakat Awam